Ita Windasari

istriku. azan magrib mengulum matamu. alismu rebah terbangun. rambutmu yang magrib lelap di leherku. kuhikmati ranumnya seperti menyuntuki batubatu tasbih. merah di luar kamar bercengkerama di keningmu. matamu terbuka seumpama fajar terluka. bilal mengundang ke perjamuan magrib. menyantap sumsum alfatiha dan anggur arrahman.

Minggu, 25 Juli 2010

LAILAHA ILLALLAH, SEMBAHYANG, KEPERGIAN IBU, DAN LIONTIN MARTAPURA


Kisah Keempat

1             
Saya masih di kantor sekitar pukul 12.30 Wita, Rabu, 20 April 2010, ketika kakak saya menelpon bahwa ibu saya terbaring sakit di Polewali, Sulawesi Barat. Seketika saja saya menelepon ke sana untuk menanyakan kabar ibu. Kabar yang saya terima bahwa seusai salat zuhur ibu saya tiba-tiba terlihat kaku. Ia diangkat ke ranjang karena tak mampu lagi berjalan. Ipar saya segera menghubungi tetangga untuk datang menjenguk dan memberi pertolongan. Ibu masih sangat sadar dan mengatakan pada Mama Kiki (menantu ibu) bahwa tidak usah memanggil tetangga, saya baik-baik saja. Akan tetapi, Mama Kiki tetap memanggil tetangga dan juga menelepon kami anak-anaknya yang jauh. Ibu bertanya lagi, siapa yang engkau telepon Mama Kiki. Mama Kiki menjawab bahwa ia mengbungi anak-anak Ibu di berbagai tempat agar mereka tahu dan segera datang. Mendengar jawaban Mama Kiki, seketika saja Ibu menangis tersedu-sedu. Mungkin Ibu merasakan ”sesuatu” di dalam dirinya. Mendengar nama anak-anaknya disebut, ia merelakan air matanya mengalir. Ketika saya datang di Polewali dua hari setelah kejadian itu dan mendengar cerita itu, saya pun tak kuasa menahan air mata. Ibu...

2
Januari 2010, atau empat bulan sebelum Ibu sakit sekarang, ia pernah diopname dan transpusi darah di RSU Polewali. Lambungnya terluka dan mengeluarkan banyak darah hingga HB-nya tinggal delapan saja. Saya ingat persis, saat itu, jauh dari Kendari, saya menelepon Ibu tercintaku yang terbaring di bangsal rumah sakit. Saya menyapanya dengan penuh rindu dan ia menjawabnya sepenuh cinta. Saya mencoba menguatkannya dan mohon maaf karena tidak sempat datang. Ibu pun berkata bahwa yang penting engkau anakku tetap mendoakanku. Dan bahwasanya, yang penting kita tetap sehat dan selalu saling merindukan. Pada saat setelah keluar dari rumah sakit itulah, tiba-tiba Ibu kerap terserang tekanan darah tinggi.

3
Di Kendari, kami bertiga anak-anaknya, Burhanuddin Gani, Bayanuddin Gani, dan saya Syaifuddin Gani, segera berkumpul dan membicarakan rencana keberangkatan ke Polewali. Pada saat itu, ibu tercinta sudah terbaring di bangsal RS Polewali. Apakah engkau merindukan kami, ibu. Kami semua mencintaimu. Kuingat lagi ketika saya berusia sepeluhan tahun, kita berdua mendaki lereng-lereng bukit lalu menuruni lembah menuju ladang di Salupongkak. Saya masih kanak-kanak saat itu dan sangat menakuti ular, monyet, dan babi hutan. Tetapi engkau menenangkanku dan mengatakan bahwa binatang itu lebih takut pada manusia. Kita memetik jamur di batang pohon yang terbaring. Juga langsung terngiang saat  kita tinggal di perladangan Salumato dan ketika saya harus pergi sekolah, ibu selalu menemaniku menuruni lembah dan berteriak dari atas untuk mengusir rasa takutku akan ular, babi, dan pada sunyi hutan-hutan. Oh bunda, Ibu segala Cinta, kini engkau di gerbang kehidupan berikutnya. Seketika aku ingin segera mendekapmu mencium tanganmu, dan menyisir rambut putihmu.

4
Kami sepakat, kakak kami Burhanuddin Gani berangkat hari Kamis, 22 April 2010 melalui Bandara Haluoleo Kendari menuju Bandara Hasanuddin Makassar. Saya dan Bayanuddin Gani berangkat esok harinya. Saya sedih, karena akan berangkat tanpa harus menyertakan istri dan anak saya yang berusia 14 bulan. Kakak saya membawa anaknya yang berusia sembilan bulan dan kami akan menunggu istrinya di Makassar tiba dari Balikpapan. Anaknya belum sempat melihat wajah neneknya, maka ia selalu berdoa semoga Tuhan masih mempertemukan antara nenek dan  sang cucu. Bukankah sebagai ayah ia akan gembira jika anaknya sempat memeluk wajah ibu sang ayah? Saya pun juga ingin mempertemukan anak saya dan neneknya, siapa tahu inilah momen yang paling mengharukan. Anak saya masih sempat digendong neneknya saat berusia empat bulan. Itu terjadi ketika saya pulang menjemput istri di Pelabuhan Pare-Pare, dari Tarakan, Kaltim. Kepada Tuhan, jua kami berserah diri.

5
Pukul 23.00 malam, telepon genggam saya bergetar. Nama Burhanuddin Gani muncul. Saya mengangkat dengan hati bergetar. Saya sudah tiba dan di ruang ICU RSU Polewali sekarang. Ibu sudah tidak sadar. Saya tidak lagi bisa berkomunikasi langsung. Akan tetapi, ketika saya menjabat tangannya yang dingin dan berbisik di telinganya bahwa saya anakmu, Papa Rian dari Kendari, Indo, tangan Papa Rian dieratkan oleh tangan Ibu. Ibu masih bisa merespon seperti itu saja, begitu Papa Rian memberitahukannya kepada saya. Ia masih menegaskan agar kami berangkat besok tanpa harus menundanya. Rupanya, Ibu sudah dipindahkan dari ruang bangsal ke ruang ICU. Tuhan lindungilah Ibuku. Ampunilah dosanya. Jadikanlah ia sebagai ibu yang engkau beri pentunjuk dunia dan akhirat. Ia melahirkan dan membesarkan kami kedelapan anak-anaknya. Saya anak terakhir, Tuhan. Balaslah kesetiaan dan kesejatian Ibu dengan delapan Surga.

6
Maka, Jumat pagi, 23 April 2010, pukul 07.15 Wita kami meninggalkan Kendari. Penerbangan Kendari—Makassar sekitar 40 menit saja dan beberapa jam singgah di rumah Kakak Akma (Mama Tifa). Tiba di Makassar sekitar pukul 08.00 dan baru berangkat ke Polewali pukul 15.00 usai menunggu istri Baya tiba. Lama perjalanan menuju Polewali sekitar enam jam. Di perjalanan, tak henti-hentinya kami menghubungi saudara dan kerabat yang setia menunggu di ICU. Saya sempat berbicara dengan Bapak yang bersuara sendu. Katanya, doakanlah selalu Indomu agar dipulihkan dan diberkati Allah. Pukul 22.30 mobil yang kami carter segera memasuki kawasan rumah sakit. Hatiku bergetar. Allahu Akbar senantiasa terucap dalam dadaku. Subhanallah alhamdulillah astagfirullah walailaha illallah allahu akbar, terus keluar dari mulut batinku. Saya dan Baya berjalan cepat memasuki koridor rumah sakit yang hening, dingin, dan fana. Di depan pintu ICU duduklah tiga kakak saya dan kerabat lainnya, yang menyambut kedatangan kami dengan wajah yang dapat diterka. Kami langsung masuk ruang ICU. Di samping kanan bangsal, ada kakak saya yang lain, Salahuddin Gani, sedang membaca Surah Yasin. Di samping kiri, duduk Nazaruddin Gani, kakak yang lain lagi, bersama beberapa keluarga.

7
Astagfirullahal adzim, di atas bangsal terbaring ibu dengan tak tak berdaya. Tangis kakak saya pun pecah. Ia tak sanggup menahan air mata dan suaranya. Diciumnya kaki indo sambil mengeluarkan kata-kata maaf. Dia juga mencium kening indo yang berkeringat. Saya masih mencoba menahan diri untuk tidak langsung menangis dan bersuara. Saya langsung mencium kening indoku yang selama 71 tahun mengasuh kami dengan kesetiaan dan keikhlasan. Masih teringiang di memoriku sekitar tahun 1995 ketika saya pulang sekolah SD, di rumah telah siap nasi di piring, ikan kering, dan sayur bening yang ia suguhkan untukku. Juga terngiang lagi ketika ibu dan kami anak-anaknya menumbuk padi di lesung sambil bergurau. Dengan satu lesung, kami bisa langsung menumbuk padi sebanyak empat sampai enam orang. Masih teringat dengan jelas, bulan Mei 2008, Ibu masih ceria dan sehat bugar mendampingiku di persandingan di Tarakan, Kaltim. Oh ibu, tanggal 18 Mei 2008 pagi, saya masih mencium tanganmu bersama Ambo dalam acara ijab-kabul, untuk minta restu dan doamu atas pernikahanku dengan Ita Windasari, menantumu. Tapi kini ia tak berdaya di bawah kekuasaan Sang Pencipta.

8
Ada tabung 02 dan sebuah pipa melekat di hidung ibu. Nafasnya yang terdengar, turun naik. Sebuah layar monitor yang menampilkan angka-angka tentang kondisi jantung, udara di paru-paru, denyut nadi, dan tekanan darah membuat jantungku semakin berdebar. Saya dan Baya bergantian membisiki telinga Ibu mengenai kedatangan kami. Baya mengatakan, ”Indo saya sudah datang bawakan cucumu, Naswa”. Tentunya ibu hanya menjawab dengan suara nafas yang turun-naik. Baya memiliki kesedihan tersendiri karena anaknya, Naswa, belum sempat dilihat atau digendong secara langsung oleh ibu. Kesedihan itu juga semakin dalam karena rencananya, gaji pertama Baya akan dihadiahkan kepada ibu kami itu. Manusia punya rencana, Tuhan punya rencana. Rencana Tuhanlah yang selalu menjadi kenyataan. Kadang rencana manusia dikabulkan Tuhan dan kadang juga belum atau tidak. Sebagai manusia, kita harus memetik hikmah dari setiap tanda-tanda Tuhan.

9
Saya membisiki telinganya kata-kata indah dan puji-pujian kepada Tuhan. Juga tak lupa memohon maaf kepadanya dan memaafkan salah-salahnya, jik ada pada saya dan kami. Melihat situasi yang mengharukan itu, seketika saudara kami dan kerabat yang ada di sekitar bangsal, tak dapat menahan tangisnya. Air mataku pun menyaksikan keadaan ibu yang paling kusayangi itu. Malam itu, kupenuhi dengan doa-doa dan bacaan Surah Yasin untuk ibuku. Menjelang subuh, saya bertanya kepada perawat tentang keaadan Ibu. Seperti apakah keadaannya sekarang? Apakah masih...? Ia menjawab, Ibumu terserang stroke. Kemungkinan besar pembuluh darah di otak pecah. Pengalaman kami di sini, biasanya keadaan pasien seperti ini tinggal menunggu ”waktu” saja. Selain itu, kita juga selalu mengharap petunjuk Tuhan, jawabnya. Saya terhenyak mendengar jawabannya, meski saya telah menduga jawaban itu. Ia melanjutkan, tapi Ibumu masih akan bertahan paling tidak besok pagi. Terakhir saya bersua dengan Ibu, sepuluh bulan silam. Ia masih menyambutku dengan ramah. Kucium tangan dan pipinya yang keriput, lalu lalu kurangkul badannya penuh cinta.

10
Beginilah kronologis peristiwa yang menimpa Ibu. Rabu pagi, 20 April 2010, ia masih sehat bugar. Ia naik becak menuju rumah keluarga, sekitar 200 meter dari rumah Papa Kiki, rumah anaknya yang sering ia tempati jika pulang dari kampung. Di sana, ia melihat kebun ubi yang ranum dan rindang. Mungkin, tiba-tiba ia mengingat kebunnya di kampung dan halaman rumah Papa Kiki yang berumput. Setelah mengobrol dengan keluarga itu, ia pun pamit pulang. Sesampai di rumah Papa Kiki, ia segera mengambil sodo dan membersihkan rumput di halaman rumah. Papa Wana, ponakan ibu, masih sempat singgah menyapa ibu saat pulang ke Mambi mengendarai motor. Ibu sempat berpesan agar ia menyampaikan salam kepada saudaranya (Ibunya Papa Wana) yang sudah lama terbaring sakit di rumah, persisnya di Kampung Salubulung). Kata ibu, ia akan segera menyusul ke Salubulung, karena akan beres-beres menjelang Ramadan Agustus ini di kampung kelahiran kami itu.

11
Sambil membersihkan rumput terdengar juga suara azan dari masjid. Ibu lalu berhenti dan segera mandi lantas menunaikan salat zuhur di rumah. Ibu sementara salat ketika bapak menuju pintu untuk salat di masjid. Usai salat, ibu bersandar di dinding kamar. Bapak pulang dari masjid dan Mama Kiki pulang dari pasar. Mama Kiki membuat teh lalu disuguhkan kepada ibu, bapak, beserta kue Gabin. Suasana ceria. Sesekali keluar kelakar dari bapak dan juga ibu. Tiba-tiba Mama Kiki melihat kue yang dimakan ibu, berjatuhan di bibirnya. Kue yang dimasukkan ke mulutnya tidak terkunyah. Mama Kiki menegur, apakah ibu sengaja melakukan itu. Bapak pun berkata, bahwa jika sudah tidak bisa masuk, jangan dipaksakan, dengan nada bergurau. Tapi dengan suara terbata-bata ibu berkata bahwa ia sama sekali tidak sengaja melakukannya. Suasana jadi panik.Mama Kiki memanggil tetangga yang juga masih ponakan-ponakan ibu. Ibu masih sempat bicara, tidak usah memanggil orang, saya tidak apa-apa. Datanglah Papa Aco dan beberapa anak-anak usia SMA lalu bersma-sama mengangkat ibu ke ranjang. Ibu tak lagi kuat berjalan.

12
Papa momen itulah, telepon genggamku berdering. Saya dihubungi Papa Rian, kakak saya di Kendari, yang mengabarkan bahwa Indo terbujur sakit. Saya disuruh untuk menelpon ke sana. Saya menelepon Mama Kiki dan ia menjawab bahwa ibu sementara dibaringkan di ranjang yang selalu ia tempati bersama suaminya tercinta. Bapak kami. Kata Mama Kiki mungkin ibu terseang stroke. Saya bilang apakah saya bisa bicara dengannya. Mama Kiki bilang, jangan dulu, karena sementara ia dirawat bidan, yang juga adalah ponakan ibu, Rokna. Ketika Mama Kiki sibuk menelepon kami anak-anak ibu, ibu sempat bertanya, siapa yang engkau telepon Mama Kiki, lalu Mama Kiki menjawab, saya menelepon anak-anakmu agar mereka tahu dan segera datang. Pada saat itulah naluri keibuannya segera lahir. Ibu saya menangis tersedu-sedu. Jika mengingat cerita itu lagi sekarang, saya selalu ditemani air mata yang mengalir ke pipi. Mungkin saat itu ibu berpikir bahwa anak-anaknya telah tahu ia sakit dan anak-anaknya yang delapan orang itu akan datang menjenguknya. Mungkin ibu juga telah mendapat tanda-tanda dari Langit bahwa waktunya tidak lama lagi akan segera tiba. Oh Indo, semoga di alam kubur sekarang ini, engkau sementara bermain di Taman Surga.

13
Sabtu pagi, 24 April 2010. Kami semua keluar dari kamar ICU. Para perawat di ruang itu akan membersihkan para pasiennya. Kami telah membelikan sabun dan bedak untuk ibu. (Bedak itu kini kusimpan di lemari rumahku). Kami juga telah menyiapkan beberapa lembar sarung untuk ibu. Saya kagum dengan para perawat itu yang rela dan ikhlas mencuci, memandikan, dan membersihkan pasien yang tidak ada sangkut paut keluarga dengannya. Semoga mereka diampuni Allah dan disediakan berlembah-lembah pahala. Usai dimandikan, ibu tampak lebih segar dan harum. Akan tetapi, belum ada tanda-tanda ia akan segera pulih lagi. Saat menjelang siang, ketegangan muncul. Angka-angka di monitor secara perlahan mulai turun. Ia bagai air mengalir ke kerendahan. Kami kembali melafazkan kalimah ”lailaha illah”. Keluarga besar ibu segera melingkari bangsal. Doa-doa dirafal ke udara. Papa Irma, yang juga menantu Indo segera menjemput saudara Indo untuk datang. Saudara Indo yang kami panggil Puak segera datang lalu menyentuh bahu Indo dan mengatakan, Indona Hasa, saya datang. Indona Hasa adalah panggilan akrab untuk ibu saya karena kakak tertua kami bernama Hasanuddin. Tidak ada juga respon. Para perawat juga terlihat tegang. Mereka malah memindahkan posisi monitor ke arah mereka agar tahu perkembangan perjalanan pulang ibu saya. Melihat ketegangan perawat, saya segera sadar, tidak lami lagi Indo tercinta mungkin akan segera meninggalkan kami, menuju Sang Khaliq.

14
Akan tetapi, angla-angka itu bertahan pada sekitar angka 90-an.Artinya, suhu udara, denyut jantung, tekanan darah ibu belum berada pada titik nadir. Keluarga dan handai taulan silih berganti datang menjenguk dan membacakan doa-doa untuk ibu.Bapak di samping kanan itu dan membaca doa. Saya dan saudara-saudaraku tak henti juga berdoa  dan membaca Al quran.

15
Dan kekuasaan Allah atas hamba-Nya kembali berbicara. Sejak awal malam tanggal 24 April 2010 itu, angka-angka di layar monitor kembali bagai air turun perlahan-lahan. Kalimah lailaha illallah di ruang ICU kembali bergema. Sepupu atau keluarga perempuan saya yang semuanya mengenakan kerudung besar, turut menyumbangkan lafaz itu di depan tubuh ibu yang terbaring. Angka-angka di layar monitor itu tidak sekadar berubah tetapi juga mengeluarkan suara tik tik tik. Saya menghaturkan ucapan terima kasih kepada keluarga besar kami yang setia menemami ibu selama di Rumah Sakit Umum Polewali. Pahala jualah balasannya.

16
Dan inilah momen spritual yang paling menggetarkan. Sekitar jam sebelas malam, mata ibu yang selama ini tertutup, tiba-tiba secara perlahan terbuka. Lalu dengan saksama ia mengamati kami ke kanan dan ke kiri bangsal. Papa Ceng, salah seorang keluarga yang hadir berkata, ”Aulek aklaaa napemmannasai koak i, anak-anakna” (Ia mengamati dan memperjelas kepada kalian, anak-anaknya). Di dalam hatiku, saya terus berdoa, ibu jika memang engkau akan pergi, telah kuikhlaskan. Dan semua anak-anakmu dan juga Bapak telah mengikhlaskanmu pergi menghadap Ilahi Rabbi. Mungkin sekitar lima belas menit mata ibu terbuka, sebagai pertanda ia pamit kepada kami. Lailaha Ilallah, Lailaha Ilallah, Lailaha Ilallah bergema tiada henti.

17
Sekitar jam sebelas lewat empat puluh lima menit, ibu kami tercinta menghadap Ilahi Rabbi. Innalilahi wa Innailaihi rojiun.

18
Ya Allah Ampunilah dosa-dosa ibuku. Terimalah amal salehnya. Kami telah mengikhlaskan ia menghadap-Mu. Jadikanlah kuburnya sebagai Taman Surga. Terangilah kuburnya dengan cahaya surga-Mu.

19
Di tengah rasa kehilangan dan kesedihan yang mendalam, kami anak-anaknya dan juga bapak, masih dapat merasakan tiga kebahagaiaan. Pertama, kepergian ibu disaksikan anak-anaknya dan juga bapak sendiri. Kedua, kepergian ibu tidak lepas dengan iringan kalimah lailaha illallah. Ketiga, sejak sakit tanggal 20 April 2010 itu, ibu senantiasa mendirikan sembahyang, sampai ia berada di ruang bangsal dan ketika ia dipindahkan ke ICU. Bahkan di batas antara sadar dan tidak sadar, ibu masih sempat salah baring yang dituntun salah seorang anaknya, Mama Azizah.

20
Usai pemakaman, Ahad, 25 April 2010, kami kembali membuka-buka foto-foto bersama ibu dulu. Ah, usia memang begitu singkat untuk kebersamaan ibu, tetapi panjang untuk pengabdian sebagai hamba Allah. Kami lalu membuka sebuah kotak aluminium ibu yang tua tempat ia menyimpan anting emasnya yang sudah berusia puluhan tahun. Di antara anting ibu yang khas bentuknya itu, terdapat sebuah liontin Martapura. Saya jadi ingat saat masih mahasiswa, tahun 2000 silam ketika saya ikut rombongan Teater Sendiri pentas teater di Taman Budaya Banjarmasin, kami singgah di Martapura dan membelikan ibu sebuah gelang dan liontin Martapura. Air mataku tak kuasa tertahan. Kurelakan ia menetes ke pipiku, bersama kerelaanku atas kepergian ibu. Damailah di Surga. Ibu...

Kendari, April--Juli 2010

4 komentar:

iwankonawe mengatakan...

mantap bung....

http://iwancomcom.blogspot.com mengatakan...

mantap bung....

Salubulung Syaifuddin Gani mengatakan...

terima kasih brader. mana puisi barumu brader..

Salubulung Syaifuddin Gani mengatakan...

mungkin kita perlu diskusi lagi soal puisi dan sastra kendari brader...