Ibu, aku menjadi Liu
Mencari mawar kuning ke rimba Konawe
Bukan untuk Raja Buton yang sakit
Tapi untukmu sebelum menuju langit
Di Kendari, matahari tiba-tiba bersuara, seakan pamit
Mengabarkan jantungmu menyampaikan kisah-kisah rambutmu
Ke alamat rantauku
Maka kupetik sekuntum kobaran matahari
Dan kujelajahi padanglembah Anaway
Kupetiklah mawar kuning, sang penawar negeri Konawe
Lalu kubawakan untukmu Ibu
Yang terbujur di Polewali
Sekuntum kobaran matahari Ibu
Membakar air mataku mendidihkan dosaku
Seuntai mawar kuning Ibu
Mengharumkan mataku meremajakan rinduku
Kubawa untukmu yang tak lama lagi hijrah ke langit
Aku tiba di Polewali, langit sepenuhnya diteduhi matahari
Bumi adalah keharuman mawar kuning
Engkau terbujur di ruangan putih
Ditangisi doa murni anak-anakmu yang sedih
Suara-suara ayat suci membasahi nyawamu memandikan tubuhmu
Cucu-cucu tawariangmu menyenggukkan doa-doa belia
Dan mawar kuning Ibu, kusematkan di rambutmu yang panjang
Engkau melihatku Ibu?
Kutaburkan serbuk-serbuk matahari
Menjelma doa-doa surgawi di kebeningan nyawamu
Air mata kami tak henti mengalirkan doa dan pengabdian kami bergetar Ibu
Melihat engkau melenggang ke Teluk Mawar
Ibu, langit menguning
Bumi amin
Polewali—Kendari, April—Juni 2010
Tidak ada komentar:
Posting Komentar