Ita Windasari

istriku. azan magrib mengulum matamu. alismu rebah terbangun. rambutmu yang magrib lelap di leherku. kuhikmati ranumnya seperti menyuntuki batubatu tasbih. merah di luar kamar bercengkerama di keningmu. matamu terbuka seumpama fajar terluka. bilal mengundang ke perjamuan magrib. menyantap sumsum alfatiha dan anggur arrahman.

Kamis, 18 Maret 2010

Beberapa Puisi Perjalanan


Rambut Kenangan

bumi mekongga
kuseret kaki ke terminal sabilambo
angin getir sambil lalu
dan kau lunglai
ke teluk rindu.
rambutmu baja
rebutan angin pomalaa
dan gugurannya
menjelma baris-baris hitam
dalam sajakku

Kolaka--Kendari,  September--November 2007



Istirah di Lembah Mowewe

perjalanan itu menderukan gemamu yang tandas
serupa raung mesin mengebor rahim Mekongga
matamu pijar adalah puncak pinus
memergoki cakrawala.

aku istirah di lembah Mowewe
merenungi pertemuan kita yang merah
di dermaga kolaka.
sambil meradang memandang nanah tanah
di keruk baja dan raja

hidup seumpama perahu menjala
lalu kalah terdampar di tebing senja.
o, betapa merdeka gelombang
bergulung lalu berguling
di dada-dada pantai
sementara kita membilang butir pasir yang rekat
di tubuh pendosa.

kau kenangkah
isyarat dan tabiat
berkobar di deru waktu
sebagian seumpama lintah
yang lain, haus darah
lapar daging?

lembah Mowewe yang gaib, dingin dilingkari angin
aku memetik bunga merah
menancapkan di rambutmu, tembaga.
sebelum aus digerus gerigi
sebelum raib digasak hangus

aku istirah di lembah Mowewe
di lembah matamu yangt meleleh
                                                            
Mowewe, 13 Agustus 2007


Tepi Hayat

jantungku angin mataku langit
seribu taifun mortir aku sejuta pasir

ledakan-ledakan kepala menyoraki gaza
aku seliat baja engkau sebetulnya busa
dari mulutmu luka dirajah tuba

di liang-liang pasir tepi barat
meletus anyir sampai ke tepi hayat

aku kembali ke tengah mayat
dalam baiat dalam rakaat berpeluru safaat
kusongsong engkau sampai tepi kiamat

kau renggut tanah darah
kau reguk kembali di cangkircangkir neraka

nyala yang tumbuh di gaza
nyawa yang subur di palestina

Kendari,  23 Januari 2009



Surat dari Matahari
:Aceh

pagi gugur
matahari tampak kabur
disongsong keranda laut
anak-anak berdatangan menuju kubur.
tak sempat kuantarkan doa-doa
sebelum engkau
melesak ke terminal tuhan.
air mata langit
dan gerimis yang jatuh bersuara parau
mengguyur serambi ini
yang tinggal batu-batu
dan sebiji peluru.
pabila malam pulang
hanya udara yang datang sempoyongan
bercerita tentang sepucuk surat dari matahari
yang berlabuh di meulaboh.

Bekasi, 13 Juni 2005


Sungai Bara¹

sulur-sulur bakau menjaring subuh
liur-liur subuh menyaring kabut

pagi seperti kaca, bening di kedalaman hening
laut seperti kata, takzim di kediaman angin

aku menjelma lumut di rahim tanah
mencelup rindu ke sungai bara

oe anak istri
oe anak negeri
di sungai bara, batu cinta membara!

Tarakan-Kendari, Februari-Mei 2009
¹nama muara di Tarakan



Angin Magrib Pasar Kembang
untuk koto dan thendra

angin magrib mengeleparkan bau hitam
mengantar kami ke lembah ilham
yang bernyanyi dan berapi
di lorong-lorong fana, dewa dewi
laron-laron putih dan kumbang-kumbang abu
membakar udara dan menandaskan diri dalam pesta
rambut cemeti membetot betis itali
ditangisi badan jalan papa
badan dan gairah terebus rayu, kaca dan kata beradu
pecah, melukai punggung malam

aduh
sebuah lecutan membabat jantung
irisan senar mengelana di daging tulang

tubuh kami ranggas sepanjang api
terkapar mendidih dalam lumpur matahari

angin magrib pasar kembang
menggeletar ke jasad malioboro
musim haru makin panjang
menggelepar sampai ke solo
rambut kami dirambati kabut begadang
lalu sekuntum mawar berbau pepsi menggoda, hallo

kami meramal langit yogya yang abu
terharu diberondong mata biru

di tengkuk trotoar, terbenam jejak seorang sufi
terbentur di dinding puisi, dibopong dewata bali

kami berzikir di pasar samar
berdoa di antara botol magrib dan tarian isa
adakah gugur hujan badar

kami berkendara keranda
melaju ke pemakaman sleman
angin magrib jatuh
tersedu di pintu subuh

selamat pagi

Yogyakarta-Kendari, 2009


Pada Ribuan Bandar

dari teluk mandar
aku labuhkan ribuan jangkar pada ribuan bandar
aku terkapar dan tersadar, gigir dan terbakar
dalam pembakaran asar

aku lafazkan salawat badar, merangsek dari fajar ke fajar
cinta tak kuasa ditakar seperti menghitung alamat yang samar
sebelum aku mafhum, takdir dan takbir
bergeluruh dipeluk banjar

Kendari, 23 April 2008

Tidak ada komentar: