Di lorong ini kita saling berbagi, berjabat tangan, dan berjabat keindahan. Dan aku akan selalu jatuh Cinta! (Foto: Muh. Yudi Ananto, Gorontalo, Juni 2010)
Ita Windasari
istriku. azan magrib mengulum matamu. alismu rebah terbangun. rambutmu yang magrib lelap di leherku. kuhikmati ranumnya seperti menyuntuki batubatu tasbih. merah di luar kamar bercengkerama di keningmu. matamu terbuka seumpama fajar terluka. bilal mengundang ke perjamuan magrib. menyantap sumsum alfatiha dan anggur arrahman.
Rindu tergaru musim baharu luka yatimpiatu
Kenangan tersaruk-saruk di hutan-hutan Anduonohu
Bukit marun angin harum
kota kabur nasib kardus
Menggiurkan kata-kata mengharukan segenap mata
Di pantai Abeli, sayup-sayup pedih dari sepasang kedasih
Di lembah janji, letupan api membakar segenap sumpah
Kembali terkenang para kekasih
Oh bunda yang jauh oh winda yang berlabuh
Oh negeri tempurung oh nasib tengkorak oh lambung terkurung
Waktu adalah surga
Janji semata lidah api
Jarak ialah sajak
Di bawah telapak sunyi marcapada oh baradurjana tungkunusantara
Aku digonggong musim kerinduan dirongrong muslihat lidahjanji
Yang berkepanjangan
(Saya sangat berbahagia karena mendapat kiriman nyanyian ini dari sahabat saya La Ode Yusri. Nyanyian ini, ditembangkan sang ibu tercinta, kala melepas anaknya pergi merantau, mereguk ilmu pengetahuan ke negeri orang. Ini adalah tradisi yang masih berlangsung, khususnya di Gu, Lakudo. Agustus ini, La Ode Yusri akan berangkat ke Yogyakarta, menuntut ilmu di sana. Nah, inilah nyanyian dari sang bunda, yang mengantar ananda tercinta). Mengandung filsafat kebutonan, sejarah Buton, perang dengan Kerajaan Gowa, dan juga soal kejatidirian sebagai la ode).
Oleh: La Ode Yusri
Ngkolee..
Kini waktumu tiba
Tanah Jawa memanggilmu datang
Kalau pergi, pergilah
Tapi ingatlah kau pada ini tanah
Tanah tempat kali pertama
Darah kau mengalir basah
Tanah tempat kali pertama
Kau hirupi udaranya
Tanah tempat kali pertama
Kau lolongi ia dengan tangismu
Tanah tempat arimu
Ditanamkan
Gu Lakudo-mu
Serambinya Butuuni
Selirnya munajat
Ingat-ingatlah kau Nak..
Sebagaimana Murhum
Rindu pada tanah ini
Lalu mengambilnya masuk
Dalam rengkuh kuasanya
Sebagaimana Wolio
Agung meninggikan tanah ini
Tak ada lakina dari tanah ini
Yang sembah turunkan topi
Setiap kali maju menghadap sultan
Sebagaimana telah diadatkan
Diwajibkan pada lakina tanah lain
Sebagai balas atas budi
Karena tangan dari tanah ini
Umbunowulu ditekuk takluk
Negeri bangkang menantang
Kuat merongrong kesultanan
Melawan tak patuh titah Sultaan
Bahkan kapal-kapal utusan kerajaan
Tak pernah sampai menjangkau tanah negeri itu
Terkenal sakti dan bertuah mantera negeri itu
Dari puncak gunung Sabampolulu
Mereka melayangkan berpuluh batang kelapa
Pada kapal-kapal penakluk kiriman kerajaan
yang masuk teluk lasongko ataupun selat Baruta
menujui tanah mereka
Atas kendali mantera tuah teluh negeri itu
Batang-batang kaku mati itu
Meluncur gesit menderu
seperti mengandung membawa nyawa
Menghantam tepat di lambung kapal
Menghujam keras merusak palka
Menyobek serak kain layar kapal
Tenggelam karam sebelum mencapai tanah negeri itu
Itulah kemudian kesultanan murka
Susun siasat penaklukan
Memakai tangan tanah ini
Memakai tangan tanah ini anakku!
Maka kau jangan rendah diri
Tak usah pula tinggi hati
Darah kau itu
Darah kaomu
Darah la ode
Yang mengalir turun
Dari Lakilaponto
Raja kelima tanah Wolio
Sultan pertama Tanah Butuuni
Muhammad Yisa Kaimuddin gelarnya
Timbang-Timbangan panggilannya
Murhum dipanggil setelah wafatnya
Yang dengan tangannya
Membunuh Labolontio
Bajak tangguh Tobelo
Sakti kuat perkasa
Membawa kebal pada tubuhnya
Parang tombak dan panah
Tak mempan lukai kulitnya
Segan dekat pada daging tulangnya
Lantak jatuh membanting diri ke tanah
Sebelum sampai mengenai tubuhnya
Itulah ia sombong serakah
Merasa diri kuat tak terkalah
Ia bangun aliansi bajak rompak
Dan memimpin sendiri armadanya
Menggasak lautan
Melindas tanah pesisir kerajaan
Menyimpan Luwuk dan Wawonii
Konawe dan Laiwui
Dalam genggam kuasanya
Mimpi menggoda mengais benaknya
Buton di mata ditujunya
Berangan ia akan indah jadinya
Kalau Buton takluk dalam kuasanya pula
Maka diaturlah siasat penaklukan
Barata-barata dahulu
Harus dilumat habis semua
Sebelum mengulum genggam Wolio
Matana-matana sorumba dahulu
Harus digulung serata datar tanah
Dibuat merangkak rangkak kalah
Sebelum menekuk surukkan Wolio
Abdi intai kerajaan
Tergopoh datang merangkak
Menghambur diri dalam sembah
Di muka kaki Mulae yang mulia
Sampaikan kabar Labolontio
Yang telah dekat di depan mata
Telah di muka laut Kulisusu
Tersiar cepat kabar itu
Menggundahkan Raja Mulae
Menggelisahkan hati Sangia Yi Gola ini
Beliau tahu diri
Tak setanding kuat Labolontio
telah tua ia
Dimakan usia umurnya
Diambil waktu tenaga kekuatannya
Tak mungkin kuat menandingi Labolontio
Yang muda bugar kuat perkasa
Raja rompak lautan
Raja bajak lautan
Maka dibuatlah sayembara
Disiarsebarkan pada khalayak semua
Siapa-siapa saja
Dapat membunuh Labolontio
Membawakan kelelakiannya
Di muka hadapan raja
Sebagai bukti terbunuhnya
Akan diambil sebagai menantu raja
Menikahi putri ayu jelita kerajaan
Anak satu-satunya
Yang keluar lahir dari rahim permaisuri
Putri Borokomalanga namanya
Datanglah kemudian Lakilaponto
Putra yang Mulia Sugimanuru
Raja penguasa Tanah Muna
Ikut bersamanya Opu Manjawari
Raja penguasa Selayar
Juga Betoambari
Bersekutu mereka tekuk Labolontio
Di pantai laut Boneatiro
Awalnya Betoambari maju
Beradu tangkas gerak silat
Tapi ia kalah gesit
Dipukul jatuh si bajak rompak itu
Manjawari pun maju
Dalam gerak silat memukau
Tapi si bajak mata satu itu
Tak gentar surut nyali
Ia sigap dalam siaga
Menunggu tiba gerak maju Manjawari
Menyambutnya
Merangsek ia maju
Bergulat mereka dalam gelut
Beradu kebal kanuragan
Saling tikam menusuk
Tak ada kalah mempan
Kulit mereka keras menembaga
Tak tertembusi pisau besi
Tak terlukai parang besi
Tapi kemudian Manjawari tersuruk kalah
Disepak jatuh Labolontio
Majulah kemudian Lakilaponto
Dalam gerak silat yang kacau
Melangkah kempang pura-pura
Membahakkan ketawa Labolontio
Pulanglah kau kembali
Sebelum kulumat serupa dua kawanmu itu
Mereka yang kuat sempurna saja
Kutekuk takluk tak berkutik
Apalagi kau yang cacat melangkah kempang
Mengatur dirimu melangkah saja
Kau tak kuat susah sekali
Bagaimana bisa kalahkan saya?
Bagaimana berani melawan saya?
Lakilaponto terus merangsek maju
Mengikut komando raja Mulae
Tak hirau pada bahakan Labolontio
Ia maju mendekat tepat di muka Labolontio
Labolontio menarik langkah siaga
Keduanya kemudian bergelut adu kuat
Bergulat adu otot
Saling ganti menusuk tikam
Pada kulit mereka yang menembaga
Tak ada mempan
Tak ada kalah
Pisau parang dari besi itu luluh
Lantak jatuh membanting diri ke tanah
Keduanya mengambil langkah mundur
Mengatur jarak siasat
Segenggam pasir tanah laut
Dalam kepal Lakilaponto
Disembur tepat di muka Labolontio
Penuh mengenai mata satu-satunya
Labolontio linglung dalam panik
Tak dapat ia melihat
Hanya gelap saja
Gerak silatnya kacau
Ia meraung serupa kerbau kena
Memukul kenai angin saja
Hilang tuah mantera kebalnya
Dalam gerak cepat serupa kilat
Lakilaponto gesit menarik keris
pada pinggangnya
keluar dari sarungnya
ia hunus keris itu
ditusukkan pada dada
tepat di jantung Labolontio
keris bawaan dari lahir itu
ampuh bertuah juga rupanya
kebal Labolontio ia tembusi
memuntahkan habis keluar darahnya
dan mati.
Darah kau itu
darah kaomu
darah la ode
yang mengalir turun
dari Lakarambau
Sultan Buton bijak bersatu
menantang bak karang batu
keras kuat kokoh menyatu
tak gentar melawan lawan
maju merangsek penuh heroik
mengusir pulang Belanda
ke barak-barak kumuh sembunyian mereka
mengobar jihad agama sahih
pada setiap gerak majunya
biarlah diri hancur melebur tanah
asal negeri selamat aman sentausa
negeri selamat aman sentausa
jikalau ada sara mengaturnya
mengatur itulah agama pedomannya
darah kau itu
darah kaomu
darah la ode
yang mengalir turun dari Langkaririy
Sultan Buton raja Kamaru
Sakiyuddin Duurul Alam gelarnya
Bangsawan Kumbewaha
Yang memutus tak boleh
Lelaki Walaka kawin menikah
Dengan perempuan Kaomu
beranakkan ia Balu i Gu
puteri cantik nan jelita
bersuami Kapitalao Lakudo
berdiri ia tegak berani
di muka sidang Siolimbona
Menolak tegas bangsawan barata
Disamasetarakan bangsawan Kamboru mboru
Bangsawan kolaki tak ia bolehkan
Memimpin negeri
Darah kau itu
Darah kaomu
Darah la ode
Tahukah kau?
Ketika dua puluh ribu pasukan Gowa
Kiriman Hasanuddin datang menyerang ini tanah?
Sebagai murka atas ulah Buton melindungi Arupalakka
Dua puluh ribu pasukan Gowa
Di bawah komando Karaeng Bontomarrannu
Berarak maju dalam derak serak
Pinisi-pinisi penuh prajurit lengkap tameng artileri
Maju berarak dalam parade teratur
memerahkan laut teluk Buton
hendak menggasak lindas ini tanah
Kitalah di barisan paling depan
Sebagai Matana Sorumba
Pasukan inti paling depan
Pelindung jaga kesultanan
Maju gagah berani menghalau lawan
Kitalah yang Mia Sambali ini
Berjuang menumpah darah untuk mulia agungnya Sri Sultan
Kitalah yang Mia Sambali ini
Yang berdiri mengawal lindungi Keraton
Agar tak masuk ditembusi lawan
Kitalah yang Mia Sambali ini
Penakluk musuh-musuh kesultanan
Kitalah yang Mia Sambali ini
Menggiring lima ribu pasukan Gowa
Sebagai tawanan ke Liwuto
Kitalah yang Mia Sambali ini
Yang menyiutkan nyali Bontomarrannu
Kesatria Gowa yang tak pernah merasai kalah
Takluk tunduk, pulang membawa malu
Sebagai pecundang kalah
Di muka teluk Bau Bau
Ngkolee..
La ode itu taklah perlu tampil tunjukkan diri
Itulah tak kau dapati
Di tanah ini,
Tak ada seorang pun sematkan itu pada namanya
Karena hakikatnya telah ode-lah semuanya
Sebagaimana yang mulia
Tak patut memanggil yang mulia
Pada yang mulia lainnya,
pada sesama kaomu walaka
tak berlaku gelar pangkat itu
ia luluh bersama kesesamaan itu
Laode itu
hakikatnya adalah laku diri
tanggunganya berat sekali
sebab,
bagimana orang lain kau suruhi
kau ingini baik berlaku
kalau kau sendiri tak baik berlaku?
Berlaku baik pada diri sendiri dulu
Bahkan nanti tanpa kau suruhi
Orang-orang akan berbaris datang mengikutimu.
Laode itu
Adalah adab tahu diri
Tidak lupa diri
Seorang ode harus tahu diri
Harus mengenali batas kediriannya
Tahu makna keodeannya
Karena hanya dengan itu saja
Jalan mengenali-Nya
Tak berhak dipanggil la ode
Pada seorang yang buruk perangainya
Pada mereka yang berlaku amoral asusila
Pada mereka yang sombong serakah
Mengambil yang bukan haknya
Meskipun garis turunannya adalah bangsawan
Tak patut ia menyandang gelar mulia itu
Seorang ode,
Harus bisa menjaga terus lurus perangainya
Harus bisa menjaga lisan terus sejalan dengan lakunya
Harus bisa menjaga diri menguasai hawa nafsunya
Sudah ode,
Tidak berarti semakin menghabiskan makanan orang lain
Tidak berarti sesuka maunya mengambil hak orang lain
Tidak berarti semau enaknya menyuruh perintah orang lain
Seorang ode,
Harus semakin mengenal batas
Harus semakin mengenal kewajiban tanggung jawabnya
Pergilah, pergi
Kau telah dewasa
Telah bisa kuasa
Mengurus sendiri diri
Mengatur hidup sendiri
Pergilah, pergi
Kejar dan raih citamu
Pulanglah nanti
Banggakan ibu
Pergilah, pergi
Doa kami penuh beserta kau
Baring telungkupkan badan kau
Di muka pintu serambi sana
Biar kulangkahi kau
Agar nanti tak ada berani
Kau diganggu
Agar nanti
Kau kuat bernyali
Agar nanti
Kau selalu berani
Agar nanti
kau diberkati
Dilindungi Maha Pelindung
Sampai nanti kembali pulang
Pergilah pergi anakku
Jangan bersedih
Kau lelaki, mesti kuat
Kalau telah keluar tinggalkan rumah
Pantang langkah kembali mundur
Pantang muka balik menoleh
Seperti sope Wasilomata
Moncong haluannya
Kukuh menantang angkuh samudera
Setinggi gunung pun gelumbang
Tak surut ia membalik diri
Melaju kuat ia tembusi
Sehingga tampak pulau dituju
Sehingga tiba di pulau tuju
Pergilah, pergi anakku
Melangkahlah kuat
Tanggalkan takut
Jangan pengecut
Kokoh nyali tak lecut
Biarlah ibumu di sini
Berdiri tabah
dalam tegak,
melihat khusuk
Punggung kau
Sampai jarak mengambilmu
Dari pandanganku
Atau bulir air mata
Yang menderas haru
Menghapusmu dari mata aku
Pergilah, pergi
Perpisahan memang selalu begitu
Menyimpan sedih anakku
Menggandeng duka pada datangnya
Entah itu pergi sementara
Atau pergi selamanya
Tapi bukankah untuk bertemu harus berpisah dahulu?
Bagaimana ada bertemu kalau tidak berpisahan dahulu?
Bukankah berpisah itu yang menyemai-nyemai
Memanggil-manggil datang sehingga ada bertemu?
Pisah inilah yang membiakkan rindu anakku
menjadikan berjarak
dan pada berjarak inilah rindu membentang
sejauh membentang jarak
sebesar itulah pula rindu anakku
Ngkolee..
benar bukan soal pergi itu
Pun tak soal pisah itu
Telah menjadi memang ketetapan-Nya
Bahwa yang datang pada akhirnya pergi
Pulang ke tempat kali pertama ia datang
Sebagaimana purnama selalu datang
Tepat di empat belas malam
Dan kau telah memilih datang
Maka juga harus bersiap pergi
Awal pergi kau di sini
Pulanglah kelak juga di sini
Sebagaimana awal adanya
Itulah pula akhir jadinya
Berkat tanah Butuuni
Berkah tanah munajatmu
Dan doa ibu di sini
Menjaga limpahi kau
Amien....
Gu, Lakudo, Agustus 2010
Catatan;
1. Langkolee/Ngkolee = Panggilan sayang pada anak kecil lelaki di Gu, Lakudo, Buton
2. Lakina = kepala kampung/wilayah/distrik
3. Kaomu = golongan bangsawan paling tinggi di Kesultanan Buton yang berhak atas jabatan Sultan
4. Walaka = golongan bangsawan lapis kedua setelah kaomu, berhak atas jabatan dewan Kesultanan
5. Siolimbona = Dewan Kesultanan yang mengusulkan dan memilih Sultan
6. Sara = aparat Kesultanan
7. Kamboru-mboru = Istilah yang merujuk ke kaomu
8. Kumbewa = salah satu klan kaomu, kaomu ada tiga (Tanailandu, Kumbewaha, dan Tapi-tapi) ketiga klan kaomu inilah yang bergantian menggilir jabatan Sultan
9. Sope = perahu, kapal
10. laode = gelar bangsawan di Buton dan Muna
11. Mia Sambali = Orang luar, merujuk pada klan, kaum, kelompok yang berdiam tinggal di luar benteng Keraton Buton.
12. Wasilomata = nama desa/ kampung yang terkenal bertuah mantera melaut mereka
13. Matana Sorumba = Ujung tombak. pasukan paling depan penghalau musuh kesultanan
14. Liwuto = sekarang Pulau Makassar. pulau kecil tempat 5000 pasukan Gowa ditawan
15. Barata = kerajaan di bawah otoritas Kesultanan Buton, menjadi penopang Kesultanan.
Masangin Syaifuddin Gani
kau ingin mencoba peruntunganmu sekali lagi:
melewati gerbang yang membuka dirinya
untuk semua yang datang.
tak pernah tersesat kau sesungguhnya
ada aku yang mengasihimu, lebih dari
sekedar ingatan-ingatan kecil dan gerutuan
bertahun lampau. semua kekal di sini,
lekat di antara yang berdatangan
turis-turis dengan alkohol di tangan
membuatmu cemas dan melihatnya
semata ancaman yang akan membunuh kita semua
di depan beringin itu, kukira kita akan kekal
sebagaimana malioboro yang mengabadikan peristiwa
membuat semua orang ingin ke sana
tentu juga kau
--ah tidak ada lagi yang tersisa sebagai kenangan
kita kehilangan apa pun sebagai tempat pulang.
di tempat-tempat begini, tempat orang-orang datang
dan pergi. apalah kita. sekumpulan
orang-orang panik yang tunduk
pada gerbang yang membuka dirinya. tempat kau mencoba
memasukinya dan berkali tersesat arah
Selaku juri tunggal Anugerah Puisi CSH 2009, pada hari ini, Kamis, 29 Juli 2010, dengan senang hati saya mengumumkan buku kumpulan puisi Memento karya penyair Arif Bagus Prasetyo sebagai pemenang Anugerah Puisi CSH 2009 dan berhak atas hadiah uang tunai sebesar Rp 7.000.000. Keputusan penetapan Memento karya Arif Bagus Prasetyo sebagai pemenang Anugerah Puisi CSH 2009 adalah bersifat mutlak dan tidak dapat diganggu gugat.
Pemilihan buku kumpulan puisi Memento sebagai buku kumpulan puisi Indonesia terbaik 2009 (versi Anugerah Puisi CSH) dan ditetapkan sebagai pemenang Anugerah Puisi CSH 2009 dilakukan setelah melalui proses pembacaan yang teliti dan berulang-ulang selama lebih kurang tiga bulan, terhitung sejak penetapan short-list (lima besar) buku kumpulan puisi Anugerah Puisi CSH 2009 diumumkan.
Puisi-puisi Arif Bagus Prasetyo dalam Memento memperlihatkan rangkaian perjalanan panjang penyairnya dalam upaya mencari dan menemukan rekonstruksi bahasa yang subjektif, spirit of newness, keutuhan, kekuatan, dan kedalaman estetika puitik dan pada saat yang sama dengan tanpa gentar melakukan pergulatan dan pertempuran terus menerus dari segi bentuk dan tematik. Memento adalah pencapaian tertinggi Arief Bagus Prasetyo dalam ranah puisi.
Sebagian besar puisi-puisi dalam Memento, jika tidak dapat dikatakan seluruhnya, merupakan manifesto yang tegas dan terbuka untuk menolak memperlakukan puisi sebagai kerja pertukangan atau semata-mata bakat alam. Memento dengan lapang menerima khasanah kearifan lokal sebagai sumber mental tetapi pada saat yang sama juga dengan lapang menjangkau khasanah kearifan puitik dari wilayah-wilayah lain dan menjadikannya sebagai sumber mental yang sama pentingnya.
Sebagai pribadi dan juri tunggal Anugerah Puisi CSH 2009 saya mengucapkan selamat kepada Arif Bagus Prasetyo atas terpilihnya Memento sebagai pemenang Anugerah Puisi CSH 2009.
Saya juga mengucapkan selamat kepada para penyair yang buku kumpulan puisinya terpilih masuk ke dalam short-list (lima besar) maupun long-list Anugerah Puisi CSH 2009.
Cimahi, 29 Juli 2010
Cecep Syamsul Hari
Short-list Anugerah Puisi CSH 2009
Berikut adalah lima buku puisi yang terpilih sebagai lima besar Anugerah Puisi CSH 2009. Disusun secara alfabetis:
Akar Berpilin karya Gus tf. Penerbit Gramedia, Jakarta, Juni 2009.
Lagu Cinta Para Pendosa karya Zaim Rofiqi. Penerbit Alvabet, Tangerang, Mei 2009.
Memento karya Arif Bagus Prasetyo. Penerbit Arti Foundation, Denpasar, April 2009.
Puan Kecubung karya Jimmy Maruli Alfian. Penerbit Kata Kita, Depok, Februari 2009.
Telimpuh karya Hasan Aspahani. Penerbit Koekoesan, Depok, Juni 2009.
Satu buku puisi akan dipilih sebagai pemenang Anugerah Puisi CSH 2009 dan akan diumumkan pada awal Juni 2010.
Cimahi, 27 April 2010
Cecep Syamsul Hari
Long-list Anugerah Puisi CSH 2009
Berikut adalah judul-judul buku puisi yang memenuhi persyaratan untuk diikutkan dalam penilaian/penjurian Anugerah Puisi CSH 2009. Disusun secara alfabetis:
Akar Berpilin. Gus tf. Gramedia, Jakarta, Juni 2009.
Bumi Gora. M. Hasan Sanjuri. Sanggar Sastra Al-Amien, Sumenep, Desember 2009.
Cinta yang Marah. M. Aan Mansyur. Bejana, Bandung, April 2009.
Kampung Ular. Rahmat Heldy HS. Lumbung Banten, Serang, Januari 2009.
Lagu Cinta Para Pendosa. Zaim Rofiqi. Alvabet, Tangerang, Mei 2009.
Lilin-lilin Melawan Angin. Slamet Riyadi Sabrawi. LP3Y, Yogyakarta, September 2009.
Memento. Arif Bagus Prasetyo. Arti Foundation, Denpasar, April 2009.
Partitur, Sketsa, Potret dan Prosa. Wendoko. Banana, Jakarta, Juni 2009.
Peneguk Sunyi. Soni Farid Maulana. Kiblat, Bandung, April 2009.
Penyair Bodoh.Dea Anugrah. Greentea, Jakarta, Desember 2009.
Pewaris Tunggal Istana Pasir. M. Nahdiansyah Abdi. Tahura Media, Banjarmasin, Desember 2009.
Picnic. Karno Kartadibrata. Kiblat, Bandung, Januari 2009.
Puan Kecubung. Jimmy Maruli Alfian. Kata Kita, Depok, Februari 2009.
Surat Terakhir. Kamil Ibnu Masduki. FBSI, Sumenep, Agustus 2009.
Telimpuh. Hasan Aspahani. Koekoesan, Depok, Juni 2009.
Proses penilaian/penjurian akan dilakukan mulai 3 Februari s.d. 26 April 2010 untuk memilih lima finalis. Lima buku puisi yang terpilih masuk ke dalam lima besar (finalis) akan diumumkan pada 27 April 2010.
Saya masih di kantor sekitar pukul 12.30 Wita, Rabu, 20 April 2010, ketika kakak saya menelpon bahwa ibu saya terbaring sakit di Polewali, Sulawesi Barat. Seketika saja saya menelepon ke sana untuk menanyakan kabar ibu. Kabar yang saya terima bahwa seusai salat zuhur ibu saya tiba-tiba terlihat kaku. Ia diangkat ke ranjang karena tak mampu lagi berjalan. Ipar saya segera menghubungi tetangga untuk datang menjenguk dan memberi pertolongan. Ibu masih sangat sadar dan mengatakan pada Mama Kiki (menantu ibu) bahwa tidak usah memanggil tetangga, saya baik-baik saja. Akan tetapi, Mama Kiki tetap memanggil tetangga dan juga menelepon kami anak-anaknya yang jauh. Ibu bertanya lagi, siapa yang engkau telepon Mama Kiki. Mama Kiki menjawab bahwa ia mengbungi anak-anak Ibu di berbagai tempat agar mereka tahu dan segera datang. Mendengar jawaban Mama Kiki, seketika saja Ibu menangis tersedu-sedu. Mungkin Ibu merasakan ”sesuatu” di dalam dirinya. Mendengar nama anak-anaknya disebut, ia merelakan air matanya mengalir. Ketika saya datang di Polewali dua hari setelah kejadian itu dan mendengar cerita itu, saya pun tak kuasa menahan air mata. Ibu...
2
Januari 2010, atau empat bulan sebelum Ibu sakit sekarang, ia pernah diopname dan transpusi darah di RSU Polewali. Lambungnya terluka dan mengeluarkan banyak darah hingga HB-nya tinggal delapan saja. Saya ingat persis, saat itu, jauh dari Kendari, saya menelepon Ibu tercintaku yang terbaring di bangsal rumah sakit. Saya menyapanya dengan penuh rindu dan ia menjawabnya sepenuh cinta. Saya mencoba menguatkannya dan mohon maaf karena tidak sempat datang. Ibu pun berkata bahwa yang penting engkau anakku tetap mendoakanku. Dan bahwasanya, yang penting kita tetap sehat dan selalu saling merindukan. Pada saat setelah keluar dari rumah sakit itulah, tiba-tiba Ibu kerap terserang tekanan darah tinggi.
3
Di Kendari, kami bertiga anak-anaknya, Burhanuddin Gani, Bayanuddin Gani, dan saya Syaifuddin Gani, segera berkumpul dan membicarakan rencana keberangkatan ke Polewali. Pada saat itu, ibu tercinta sudah terbaring di bangsal RS Polewali. Apakah engkau merindukan kami, ibu. Kami semua mencintaimu. Kuingat lagi ketika saya berusia sepeluhan tahun, kita berdua mendaki lereng-lereng bukit lalu menuruni lembah menuju ladang di Salupongkak. Saya masih kanak-kanak saat itu dan sangat menakuti ular, monyet, dan babi hutan. Tetapi engkau menenangkanku dan mengatakan bahwa binatang itu lebih takut pada manusia. Kita memetik jamur di batang pohon yang terbaring. Juga langsung terngiang saat kita tinggal di perladangan Salumato dan ketika saya harus pergi sekolah, ibu selalu menemaniku menuruni lembah dan berteriak dari atas untuk mengusir rasa takutku akan ular, babi, dan pada sunyi hutan-hutan. Oh bunda, Ibu segala Cinta, kini engkau di gerbang kehidupan berikutnya. Seketika aku ingin segera mendekapmu mencium tanganmu, dan menyisir rambut putihmu.
4
Kami sepakat, kakak kami Burhanuddin Gani berangkat hari Kamis, 22 April 2010 melalui Bandara Haluoleo Kendari menuju Bandara Hasanuddin Makassar. Saya dan Bayanuddin Gani berangkat esok harinya. Saya sedih, karena akan berangkat tanpa harus menyertakan istri dan anak saya yang berusia 14 bulan. Kakak saya membawa anaknya yang berusia sembilan bulan dan kami akan menunggu istrinya di Makassar tiba dari Balikpapan. Anaknya belum sempat melihat wajah neneknya, maka ia selalu berdoa semoga Tuhan masih mempertemukan antara nenek dan sang cucu. Bukankah sebagai ayah ia akan gembira jika anaknya sempat memeluk wajah ibu sang ayah? Saya pun juga ingin mempertemukan anak saya dan neneknya, siapa tahu inilah momen yang paling mengharukan. Anak saya masih sempat digendong neneknya saat berusia empat bulan. Itu terjadi ketika saya pulang menjemput istri di Pelabuhan Pare-Pare, dari Tarakan, Kaltim. Kepada Tuhan, jua kami berserah diri.
5
Pukul 23.00 malam, telepon genggam saya bergetar. Nama Burhanuddin Gani muncul. Saya mengangkat dengan hati bergetar. Saya sudah tiba dan di ruang ICU RSU Polewali sekarang. Ibu sudah tidak sadar. Saya tidak lagi bisa berkomunikasi langsung. Akan tetapi, ketika saya menjabat tangannya yang dingin dan berbisik di telinganya bahwa saya anakmu, Papa Rian dari Kendari, Indo, tangan Papa Rian dieratkan oleh tangan Ibu. Ibu masih bisa merespon seperti itu saja, begitu Papa Rian memberitahukannya kepada saya. Ia masih menegaskan agar kami berangkat besok tanpa harus menundanya. Rupanya, Ibu sudah dipindahkan dari ruang bangsal ke ruang ICU. Tuhan lindungilah Ibuku. Ampunilah dosanya. Jadikanlah ia sebagai ibu yang engkau beri pentunjuk dunia dan akhirat. Ia melahirkan dan membesarkan kami kedelapan anak-anaknya. Saya anak terakhir, Tuhan. Balaslah kesetiaan dan kesejatian Ibu dengan delapan Surga.
6
Maka, Jumat pagi, 23 April 2010, pukul 07.15 Wita kami meninggalkan Kendari. Penerbangan Kendari—Makassar sekitar 40 menit saja dan beberapa jam singgah di rumah Kakak Akma (Mama Tifa). Tiba di Makassar sekitar pukul 08.00 dan baru berangkat ke Polewali pukul 15.00 usai menunggu istri Baya tiba. Lama perjalanan menuju Polewali sekitar enam jam. Di perjalanan, tak henti-hentinya kami menghubungi saudara dan kerabat yang setia menunggu di ICU. Saya sempat berbicara dengan Bapak yang bersuara sendu. Katanya, doakanlah selalu Indomu agar dipulihkan dan diberkati Allah. Pukul 22.30 mobil yang kami carter segera memasuki kawasan rumah sakit. Hatiku bergetar. Allahu Akbar senantiasa terucap dalam dadaku. Subhanallah alhamdulillah astagfirullah walailaha illallah allahu akbar, terus keluar dari mulut batinku. Saya dan Baya berjalan cepat memasuki koridor rumah sakit yang hening, dingin, dan fana. Di depan pintu ICU duduklah tiga kakak saya dan kerabat lainnya, yang menyambut kedatangan kami dengan wajah yang dapat diterka. Kami langsung masuk ruang ICU. Di samping kanan bangsal, ada kakak saya yang lain, Salahuddin Gani, sedang membaca Surah Yasin. Di samping kiri, duduk Nazaruddin Gani, kakak yang lain lagi, bersama beberapa keluarga.
7
Astagfirullahal adzim, di atas bangsal terbaring ibu dengan tak tak berdaya. Tangis kakak saya pun pecah. Ia tak sanggup menahan air mata dan suaranya. Diciumnya kaki indo sambil mengeluarkan kata-kata maaf. Dia juga mencium kening indo yang berkeringat. Saya masih mencoba menahan diri untuk tidak langsung menangis dan bersuara. Saya langsung mencium kening indoku yang selama 71 tahun mengasuh kami dengan kesetiaan dan keikhlasan. Masih teringiang di memoriku sekitar tahun 1995 ketika saya pulang sekolah SD, di rumah telah siap nasi di piring, ikan kering, dan sayur bening yang ia suguhkan untukku. Juga terngiang lagi ketika ibu dan kami anak-anaknya menumbuk padi di lesung sambil bergurau. Dengan satu lesung, kami bisa langsung menumbuk padi sebanyak empat sampai enam orang. Masih teringat dengan jelas, bulan Mei 2008, Ibu masih ceria dan sehat bugar mendampingiku di persandingan di Tarakan, Kaltim. Oh ibu, tanggal 18 Mei 2008 pagi, saya masih mencium tanganmu bersama Ambo dalam acara ijab-kabul, untuk minta restu dan doamu atas pernikahanku dengan Ita Windasari, menantumu. Tapi kini ia tak berdaya di bawah kekuasaan Sang Pencipta.
8
Ada tabung 02 dan sebuah pipa melekat di hidung ibu. Nafasnya yang terdengar, turun naik. Sebuah layar monitor yang menampilkan angka-angka tentang kondisi jantung, udara di paru-paru, denyut nadi, dan tekanan darah membuat jantungku semakin berdebar. Saya dan Baya bergantian membisiki telinga Ibu mengenai kedatangan kami. Baya mengatakan, ”Indo saya sudah datang bawakan cucumu, Naswa”. Tentunya ibu hanya menjawab dengan suara nafas yang turun-naik. Baya memiliki kesedihan tersendiri karena anaknya, Naswa, belum sempat dilihat atau digendong secara langsung oleh ibu. Kesedihan itu juga semakin dalam karena rencananya, gaji pertama Baya akan dihadiahkan kepada ibu kami itu. Manusia punya rencana, Tuhan punya rencana. Rencana Tuhanlah yang selalu menjadi kenyataan. Kadang rencana manusia dikabulkan Tuhan dan kadang juga belum atau tidak. Sebagai manusia, kita harus memetik hikmah dari setiap tanda-tanda Tuhan.
9
Saya membisiki telinganya kata-kata indah dan puji-pujian kepada Tuhan. Juga tak lupa memohon maaf kepadanya dan memaafkan salah-salahnya, jik ada pada saya dan kami. Melihat situasi yang mengharukan itu, seketika saudara kami dan kerabat yang ada di sekitar bangsal, tak dapat menahan tangisnya. Air mataku pun menyaksikan keadaan ibu yang paling kusayangi itu. Malam itu, kupenuhi dengan doa-doa dan bacaan Surah Yasin untuk ibuku. Menjelang subuh, saya bertanya kepada perawat tentang keaadan Ibu. Seperti apakah keadaannya sekarang? Apakah masih...? Ia menjawab, Ibumu terserang stroke. Kemungkinan besar pembuluh darah di otak pecah. Pengalaman kami di sini, biasanya keadaan pasien seperti ini tinggal menunggu ”waktu” saja. Selain itu, kita juga selalu mengharap petunjuk Tuhan, jawabnya. Saya terhenyak mendengar jawabannya, meski saya telah menduga jawaban itu. Ia melanjutkan, tapi Ibumu masih akan bertahan paling tidak besok pagi. Terakhir saya bersua dengan Ibu, sepuluh bulan silam. Ia masih menyambutku dengan ramah. Kucium tangan dan pipinya yang keriput, lalu lalu kurangkul badannya penuh cinta.
10
Beginilah kronologis peristiwa yang menimpa Ibu. Rabu pagi, 20 April 2010, ia masih sehat bugar. Ia naik becak menuju rumah keluarga, sekitar 200 meter dari rumah Papa Kiki, rumah anaknya yang sering ia tempati jika pulang dari kampung. Di sana, ia melihat kebun ubi yang ranum dan rindang. Mungkin, tiba-tiba ia mengingat kebunnya di kampung dan halaman rumah Papa Kiki yang berumput. Setelah mengobrol dengan keluarga itu, ia pun pamit pulang. Sesampai di rumah Papa Kiki, ia segera mengambil sodo dan membersihkan rumput di halaman rumah. Papa Wana, ponakan ibu, masih sempat singgah menyapa ibu saat pulang ke Mambi mengendarai motor. Ibu sempat berpesan agar ia menyampaikan salam kepada saudaranya (Ibunya Papa Wana) yang sudah lama terbaring sakit di rumah, persisnya di Kampung Salubulung). Kata ibu, ia akan segera menyusul ke Salubulung, karena akan beres-beres menjelang Ramadan Agustus ini di kampung kelahiran kami itu.
11
Sambil membersihkan rumput terdengar juga suara azan dari masjid. Ibu lalu berhenti dan segera mandi lantas menunaikan salat zuhur di rumah. Ibu sementara salat ketika bapak menuju pintu untuk salat di masjid. Usai salat, ibu bersandar di dinding kamar. Bapak pulang dari masjid dan Mama Kiki pulang dari pasar. Mama Kiki membuat teh lalu disuguhkan kepada ibu, bapak, beserta kue Gabin. Suasana ceria. Sesekali keluar kelakar dari bapak dan juga ibu. Tiba-tiba Mama Kiki melihat kue yang dimakan ibu, berjatuhan di bibirnya. Kue yang dimasukkan ke mulutnya tidak terkunyah. Mama Kiki menegur, apakah ibu sengaja melakukan itu. Bapak pun berkata, bahwa jika sudah tidak bisa masuk, jangan dipaksakan, dengan nada bergurau. Tapi dengan suara terbata-bata ibu berkata bahwa ia sama sekali tidak sengaja melakukannya. Suasana jadi panik.Mama Kiki memanggil tetangga yang juga masih ponakan-ponakan ibu. Ibu masih sempat bicara, tidak usah memanggil orang, saya tidak apa-apa. Datanglah Papa Aco dan beberapa anak-anak usia SMA lalu bersma-sama mengangkat ibu ke ranjang. Ibu tak lagi kuat berjalan.
12
Papa momen itulah, telepon genggamku berdering. Saya dihubungi Papa Rian, kakak saya di Kendari, yang mengabarkan bahwa Indo terbujur sakit. Saya disuruh untuk menelpon ke sana. Saya menelepon Mama Kiki dan ia menjawab bahwa ibu sementara dibaringkan di ranjang yang selalu ia tempati bersama suaminya tercinta. Bapak kami. Kata Mama Kiki mungkin ibu terseang stroke. Saya bilang apakah saya bisa bicara dengannya. Mama Kiki bilang, jangan dulu, karena sementara ia dirawat bidan, yang juga adalah ponakan ibu, Rokna. Ketika Mama Kiki sibuk menelepon kami anak-anak ibu, ibu sempat bertanya, siapa yang engkau telepon Mama Kiki, lalu Mama Kiki menjawab, saya menelepon anak-anakmu agar mereka tahu dan segera datang. Pada saat itulah naluri keibuannya segera lahir. Ibu saya menangis tersedu-sedu. Jika mengingat cerita itu lagi sekarang, saya selalu ditemani air mata yang mengalir ke pipi. Mungkin saat itu ibu berpikir bahwa anak-anaknya telah tahu ia sakit dan anak-anaknya yang delapan orang itu akan datang menjenguknya. Mungkin ibu juga telah mendapat tanda-tanda dari Langit bahwa waktunya tidak lama lagi akan segera tiba. Oh Indo, semoga di alam kubur sekarang ini, engkau sementara bermain di Taman Surga.
13
Sabtu pagi, 24 April 2010. Kami semua keluar dari kamar ICU. Para perawat di ruang itu akan membersihkan para pasiennya. Kami telah membelikan sabun dan bedak untuk ibu. (Bedak itu kini kusimpan di lemari rumahku). Kami juga telah menyiapkan beberapa lembar sarung untuk ibu. Saya kagum dengan para perawat itu yang rela dan ikhlas mencuci, memandikan, dan membersihkan pasien yang tidak ada sangkut paut keluarga dengannya. Semoga mereka diampuni Allah dan disediakan berlembah-lembah pahala. Usai dimandikan, ibu tampak lebih segar dan harum. Akan tetapi, belum ada tanda-tanda ia akan segera pulih lagi. Saat menjelang siang, ketegangan muncul. Angka-angka di monitor secara perlahan mulai turun. Ia bagai air mengalir ke kerendahan. Kami kembali melafazkan kalimah ”lailaha illah”. Keluarga besar ibu segera melingkari bangsal. Doa-doa dirafal ke udara. Papa Irma, yang juga menantu Indo segera menjemput saudara Indo untuk datang. Saudara Indo yang kami panggil Puak segera datang lalu menyentuh bahu Indo dan mengatakan, Indona Hasa, saya datang. Indona Hasa adalah panggilan akrab untuk ibu saya karena kakak tertua kami bernama Hasanuddin. Tidak ada juga respon. Para perawat juga terlihat tegang. Mereka malah memindahkan posisi monitor ke arah mereka agar tahu perkembangan perjalanan pulang ibu saya. Melihat ketegangan perawat, saya segera sadar, tidak lami lagi Indo tercinta mungkin akan segera meninggalkan kami, menuju Sang Khaliq.
14
Akan tetapi, angla-angka itu bertahan pada sekitar angka 90-an.Artinya, suhu udara, denyut jantung, tekanan darah ibu belum berada pada titik nadir. Keluarga dan handai taulan silih berganti datang menjenguk dan membacakan doa-doa untuk ibu.Bapak di samping kanan itu dan membaca doa. Saya dan saudara-saudaraku tak henti juga berdoa dan membaca Al quran.
15
Dan kekuasaan Allah atas hamba-Nya kembali berbicara. Sejak awal malam tanggal 24 April 2010 itu, angka-angka di layar monitor kembali bagai air turun perlahan-lahan. Kalimah lailaha illallah di ruang ICU kembali bergema. Sepupu atau keluarga perempuan saya yang semuanya mengenakan kerudung besar, turut menyumbangkan lafaz itu di depan tubuh ibu yang terbaring. Angka-angka di layar monitor itu tidak sekadar berubah tetapi juga mengeluarkan suara tik tik tik. Saya menghaturkan ucapan terima kasih kepada keluarga besar kami yang setia menemami ibu selama di Rumah Sakit Umum Polewali. Pahala jualah balasannya.
16
Dan inilah momen spritual yang paling menggetarkan. Sekitar jam sebelas malam, mata ibu yang selama ini tertutup, tiba-tiba secara perlahan terbuka. Lalu dengan saksama ia mengamati kami ke kanan dan ke kiri bangsal. Papa Ceng, salah seorang keluarga yang hadir berkata, ”Aulek aklaaa napemmannasai koak i, anak-anakna” (Ia mengamati dan memperjelas kepada kalian, anak-anaknya). Di dalam hatiku, saya terus berdoa, ibu jika memang engkau akan pergi, telah kuikhlaskan. Dan semua anak-anakmu dan juga Bapak telah mengikhlaskanmu pergi menghadap Ilahi Rabbi. Mungkin sekitar lima belas menit mata ibu terbuka, sebagai pertanda ia pamit kepada kami. Lailaha Ilallah, Lailaha Ilallah, Lailaha Ilallah bergema tiada henti.
17
Sekitar jam sebelas lewat empat puluh lima menit, ibu kami tercinta menghadap Ilahi Rabbi. Innalilahi wa Innailaihi rojiun.
18
Ya Allah Ampunilah dosa-dosa ibuku. Terimalah amal salehnya. Kami telah mengikhlaskan ia menghadap-Mu. Jadikanlah kuburnya sebagai Taman Surga. Terangilah kuburnya dengan cahaya surga-Mu.
19
Di tengah rasa kehilangan dan kesedihan yang mendalam, kami anak-anaknya dan juga bapak, masih dapat merasakan tiga kebahagaiaan. Pertama, kepergian ibu disaksikan anak-anaknya dan juga bapak sendiri. Kedua, kepergian ibu tidak lepas dengan iringan kalimah lailaha illallah. Ketiga, sejak sakit tanggal 20 April 2010 itu, ibu senantiasa mendirikan sembahyang, sampai ia berada di ruang bangsal dan ketika ia dipindahkan ke ICU. Bahkan di batas antara sadar dan tidak sadar, ibu masih sempat salah baring yang dituntun salah seorang anaknya, Mama Azizah.
20
Usai pemakaman, Ahad, 25 April 2010, kami kembali membuka-buka foto-foto bersama ibu dulu. Ah, usia memang begitu singkat untuk kebersamaan ibu, tetapi panjang untuk pengabdian sebagai hamba Allah. Kami lalu membuka sebuah kotak aluminium ibu yang tua tempat ia menyimpan anting emasnya yang sudah berusia puluhan tahun. Di antara anting ibu yang khas bentuknya itu, terdapat sebuah liontin Martapura. Saya jadi ingat saat masih mahasiswa, tahun 2000 silam ketika saya ikut rombongan Teater Sendiri pentas teater di Taman Budaya Banjarmasin, kami singgah di Martapura dan membelikan ibu sebuah gelang dan liontin Martapura. Air mataku tak kuasa tertahan. Kurelakan ia menetes ke pipiku, bersama kerelaanku atas kepergian ibu. Damailah di Surga. Ibu...