Untuk merangsang dan meningkatkan kreativitas pengarang Indonesia dalam penulisan novel dewasa, PT INDIVA MEDIA KREASI, Surakarta, menyelenggarakan Sayembara Menulis Novel Inspiratif 2010. Melalui sayembara ini, INDIVA MEDIA KREASI berharap akan lahir novel-novel terbaik, baik dari pengarang Indonesia yang sudah mempunyai nama maupun pemula, yang memerlihatkan orisinalitas, inspiratif, penuh hikmah, dan tidak melanggar syariat dalam bentuk dan isi.
Ketentuan Umum:
1. Peserta adalah warga negara Indonesia (dibuktikan dengan Kartu Tanda Penduduk atau bukti identitas lainnya).
2. Peserta boleh mengirimkan lebih dari satu naskah.
3. Naskah belum pernah dipublikasikan dalam bentuk apa pun, baik sebagian maupun seluruhnya.
4. Naskah tidak sedang diikutkan dalam sayembara serupa
5. Naskah dan judul ditulis dalam bahasa Indonesia yang baik
6. Tema bebas, boleh fiksi atau pengalaman nyata.
7. Isi tidak melanggar syariat Islam, tidak mengandung unsur pornografi dan SARA
Ketentuan Khusus:
1. Panjang naskah minimal 100 halaman A4, 1,5 spasi, Times New Roman 12
2. Peserta menyertakan biodata dan alamat lengkap dalam lembar tersendiri, di luar naskah dan HARUS disertai sinopsis cerita dan fotokopi pengenal (KTP/KTM/SIM/Paspor).
3. Tiga salinan naskah yang diketik dan dijilid dikirim ke:
Panitia Sayembara Menulis Novel Inspiratif Indiva 2010
PT Indiva Media Kreasi
Jl. Apel II No 30Jajar, Laweyan, SoloTelp. 0271-7055584; 0271-710812
* Batas akhir pengiriman naskah: 30 Juni 2010 (cap pos atau diantar langsung)
* Para Pemenang akan diumumkan di majalah Gizone edisi ke-21 (Edisi November-Desember) dan website Indiva: www.indivamediakreasi.com pada akhir Desember 2010.
* Hak terbit sebanyak 10.000 eksemplar untuk Juara I-III ada pada PT Indiva Media Kreasi. Untuk cetakan berikutnya (10.000 eksemplar ke atas) akan dihitung dengan sistem royalti.
* Bagi naskah yang tidak menjadi pemenang, tetapi memenuhi kriteria terbit, Indiva Media Kreasi akan menerbitkannya, dan penulis berhak mendapat honorarium atas penerbitan naskahnya itu.
* Keputusan Dewan Juri tidak dapat diganggu gugat dan tidak diadakan surat-menyurat.
* Pajak ditanggung pemenang.
* Sayembara ini tertutup bagi seluruh karyawan Kelompok Penerbit dan Majalah PT Indiva Media Kreasi
Hadiah
* Total Jutaan Rupiah
Informasi/pertanyaan bisa dilayangkan ke email atau telepon:
indiva_mediakreasi@yahoo.co.id
redaksi_indiva@yahoo.com
redaksi_girliezone@yahoo.com
0271-7055584 atau 0271-710812 selama jam kerja
(Pukul 08.00-16.00 WIB)
Dari: http://indonesiaartnews.or.id/
Di lorong ini kita saling berbagi, berjabat tangan, dan berjabat keindahan. Dan aku akan selalu jatuh Cinta! (Foto: Muh. Yudi Ananto, Gorontalo, Juni 2010)
Ita Windasari
istriku. azan magrib mengulum matamu. alismu rebah terbangun. rambutmu yang magrib lelap di leherku. kuhikmati ranumnya seperti menyuntuki batubatu tasbih. merah di luar kamar bercengkerama di keningmu. matamu terbuka seumpama fajar terluka. bilal mengundang ke perjamuan magrib. menyantap sumsum alfatiha dan anggur arrahman.
Senin, 19 April 2010
Kamis, 15 April 2010
Sayembara Menulis Novel Dewan Kesenian Jakarta 2010
Untuk merangsang dan meningkatkan kreativitas pengarang Indonesia dalam penulisan novel, Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) kembali menyelenggarakan Sayembara Menulis Novel. Lewat sayembara ini DKJ berharap lahirnya novel-novel terbaik, baik dari pengarang Indonesia yang sudah punya nama maupun pemula, yang memperlihatkan kebaruan dalam bentuk dan isi. Adapun persyaratannya sebagai berikut:
Ketentuan Umum
* Peserta adalah warga negara Indonesia (dibuktikan dengan Kartu Tanda Penduduk atau bukti identitas lainnya).
* Peserta boleh mengirimkan lebih dari satu naskah.
* Naskah belum pernah dipublikasikan dalam bentuk apa pun, baik sebagian maupun seluruhnya.
* Naskah tidak sedang diikutkan dalam sayembara serupa.
* Naskah ditulis dalam bahasa Indonesia yang baik.
* Tema bebas.
* Naskah adalah karya asli, bukan saduran, bukan jiplakan (sebagian atau seluruhnya)
Ketentuan Khusus
* Panjang naskah minimal 150 halaman kuarto, 1,5 spasi, Times New Roman 12
* Peserta menyertakan biodata dan alamat lengkap dalam lembar tersendiri, di luar naskah
* Empat salinan naskah yang diketik dan dijilid dikirim ke:
Panitia Sayembara Menulis Novel DKJ 2010
Dewan Kesenian Jakarta
Jl. Cikini Raya 73
Jakarta 10330
* Batas akhir pengiriman naskah: 30 September 2010 (cap pos atau diantar langsung)
Lain-lain
* Para Pemenang akan diumumkan dalam Malam Anugerah Sayembara Menulis Novel DKJ 2010 di Taman Ismail Marzuki, Jakarta, pada pertengahan Januari 2011.
* Hak cipta dan hak penerbitan naskah peserta sepenuhnya berada pada penulis.
* Keputusan Dewan Juri tidak dapat diganggu gugat dan tidak diadakan surat-menyurat.
* Pajak ditanggung pemenang.
* Sayembara ini tertutup bagi anggota Dewan Kesenian Jakarta periode 2009-2012.
* Maklumat ini juga bisa diakses di www.dkj.or.id
* Dewan Juri: Agung Ayu, Anton Kurnia, dan A.S. Laksana
Hadiah
Pemenang utama Rp. 20.000.000
Empat pemenang unggulan @ Rp. 7.500.000
sumber : dkj.or.id
Rabu, 07 April 2010
Chairil Anwar
| Dikutip dari: http://id.wikipedia.org/wiki/Chairil_Anwar |
|---|
| Chairil Anwar | |
|---|---|
Chairil Anwar | |
| Lahir | Medan, 26 Juli 1922. |
| Meninggal | Jakarta, 24 April 1949 |
| Kebangsaan | |
| Suku bangsa | Suku Minang |
| Angkatan | Angkatan '45 |
| Karya terkenal | Krawang Bekasi |
Chairil Anwar (lahir di Medan, Sumatera Utara, 26 Juli 1922 – meninggal di Jakarta, 28 April 1949 pada umur 26 tahun) atau dikenal sebagai "Si Binatang Jalang" (dalam karyanya berjudul Aku [2]) adalah penyair terkemuka Indonesia. Bersama Asrul Sani dan Rivai Apin, ia dinobatkan oleh H.B. Jassin sebagai pelopor Angkatan '45 dan puisi modern Indonesia.
Daftar isi |
Masa kecil
Dilahirkan di Medan, Chairil Anwar merupakan anak tunggal. Ayahnya bernama Toeloes, mantan bupati Indragiri Riau, berasal dari nagari Taeh Baruah, Limapuluh Kota, Sumatra Barat. Sedangkan dari pihak ibunya, Saleha yang berasal dari nagari Situjuh, Limapuluh Kota [1] dia masih punya pertalian keluarga dengan Sutan Sjahrir, Perdana Menteri pertama Indonesia. [2]
Chairil masuk sekolah Holland Indische school (HIS), sekolah dasar untuk orang-orang pribumi waktu penjajah Belanda. Dia kemudian meneruskan pendidikannya di Meer Uitgebreid Lager Onderwijs, sekolah menengah pertama belanda, tetapi dia keluar sebelum lulus. Dia mulai untuk menulis sebagai seorang remaja tetapi tak satupun puisi awalnya yang ditemukan.
Pada usia sembilan belas tahun, setelah perceraian orang-tuanya, Chairil pindah dengan ibunya ke Jakarta di mana dia berkenalan dengan dunia sastera. Meskipun pendidikannya tak selesai, Chairil menguasai bahasa Inggris, bahasa Belanda dan bahasa Jerman, dan dia mengisi jam-jamnya dengan membaca karya-karya pengarang internasional ternama, seperti: Rainer M. Rilke, W.H. Auden, Archibald MacLeish, H. Marsman, J. Slaurhoff dan Edgar du Perron. Penulis-penulis ini sangat mempengaruhi tulisannya dan secara tidak langsung mempengaruhi puisi tatanan kesusasteraan Indonesia.
Masa Dewasa
Nama Chairil mulai terkenal dalam dunia sastera setelah pemuatan tulisannya di "Majalah Nisan" pada tahun 1942, pada saat itu dia baru berusia dua puluh tahun. Hampir semua puisi-puisi yang dia tulis merujuk pada kematian.[3]. Chairil ketika menjadi penyiar radio Jepang di Jakarta jatuh cinta pada Sri Ayati tetapi hingga akhir hayatnya Chairil tidak memiliki keberanian untuk mengungkapkannya.[4]
Semua tulisannya yang asli, modifikasi, atau yang diduga diciplak dikompilasi dalam tiga buku : Deru Campur Debu (1949); Kerikil Tajam Yang Terampas dan Yang Putus (1949); dan Tiga Menguak Takdir (1950, kumpulan puisi dengan Asrul Sani dan Rivai Apin).
Akhir Hidup
Vitalitas puitis Chairil tidak pernah diimbangi kondisi fisiknya, yang bertambah lemah akibat gaya hidupnya yang semrawut. Sebelum dia bisa menginjak usia dua puluh tujuh tahun, dia sudah kena sejumlah penyakit. Chairil Anwar meninggal dalam usia muda karena penyakit TBC[5] Dia dikuburkan di Taman Pemakaman Umum Karet Bivak, Jakarta. Makamnya diziarahi oleh ribuan pengagumnya dari zaman ke zaman. Hari meninggalnya juga selalu diperingati sebagai Hari Chairil Anwar.
Buku-buku
- Deru Campur Debu (1949)
- Kerikil Tajam dan Yang Terampas dan Yang Putus (1949)
- Tiga Menguak Takdir (1950) (dengan Asrul Sani dan Rivai Apin)
- "Aku Ini Binatang Jalang: koleksi sajak 1942-1949", diedit oleh Pamusuk Eneste, kata penutup oleh Sapardi Djoko Damono (1986)
- Derai-derai Cemara (1998)
- Pulanglah Dia Si Anak Hilang (1948), terjemahan karya Andre Gide
- Kena Gempur (1951), terjemahan karya John Steinbeck
Terjemahan ke dalam bahasa asing
Karya-karya Chairil juga banyak diterjemahkan ke dalam bahasa asing, antara lain bahasa Inggris, Jerman dan Spanyol. Terjemahan karya-karyanya di antaranya adalah:
- "Sharp gravel, Indonesian poems", oleh Donna M. Dickinson (Berkeley? California, 1960)
- "Cuatro poemas indonesios [por] Amir Hamzah, Chairil Anwar, Walujati" (Madrid: Palma de Mallorca, 1962)
- Chairil Anwar: Selected Poems oleh Burton Raffel dan Nurdin Salam (New York, New Directions, 1963)
- "Only Dust: Three Modern Indonesian Poets", oleh Ulli Beier (Port Moresby [New Guinea]: Papua Pocket Poets, 1969)
- The Complete Poetry and Prose of Chairil Anwar, disunting dan diterjemahkan oleh Burton Raffel (Albany, State University of New York Press, 1970)
- The Complete Poems of Chairil Anwar, disunting dan diterjemahkan oleh Liaw Yock Fang, dengan bantuan H. B. Jassin (Singapore: University Education Press, 1974)
- Feuer und Asche: sämtliche Gedichte, Indonesisch/Deutsch oleh Walter Karwath (Wina: Octopus Verlag, 1978)
- The Voice of the Night: Complete Poetry and Prose of Chairil Anwar, oleh Burton Raffel (Athens, Ohio: Ohio University, Center for International Studies, 1993)
Karya-karya tentang Chairil Anwar
- Chairil Anwar: memperingati hari 28 April 1949, diselenggarakan oleh Bagian Kesenian Djawatan Kebudajaan, Kementerian Pendidikan, Pengadjaran dan Kebudajaan (Djakarta, 1953)
- Boen S. Oemarjati, "Chairil Anwar: The Poet and his Language" (Den Haag: Martinus Nijhoff, 1972).
- Abdul Kadir Bakar, "Sekelumit pembicaraan tentang penyair Chairil Anwar" (Ujung Pandang: Lembaga Penelitian dan Pengembangan Ilmu-Ilmzzu Sastra, Fakultas Sastra, Universitas Hasanuddin, 1974)
- S.U.S. Nababan, "A Linguistic Analysis of the Poetry of Amir Hamzah and Chairil Anwar" (New York, 1976)
- Arief Budiman, "Chairil Anwar: Sebuah Pertemuan" (Jakarta: Pustaka Jaya, 1976)
- Robin Anne Ross, Some Prominent Themes in the Poetry of Chairil Anwar, Auckland, 1976
- H.B. Jassin, "Chairil Anwar, pelopor Angkatan '45, disertai kumpulan hasil tulisannya", (Jakarta: Gunung Agung, 1983)
- Husain Junus, "Gaya bahasa Chairil Anwar" (Manado: Universitas Sam Ratulangi, 1984)
- Rachmat Djoko Pradopo, "Bahasa puisi penyair utama sastra Indonesia modern" (Jakarta: Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, 1985)
- Sjumandjaya, "Aku: berdasarkan perjalanan hidup dan karya penyair Chairil Anwar (Jakarta: Grafitipers, 1987)
- Pamusuk Eneste, "Mengenal Chairil Anwar" (Jakarta: Obor, 1995)
- Zaenal Hakim, "Edisi kritis puisi Chairil Anwar" (Jakarta: Dian Rakyat, 1996)
Pranala luar
Wikisource memiliki naskah sumber yang berkaitan dengan Chairil Anwar
Referensi
- ^ [1]
- ^ Artikel tentang Chairil Anwar, awalnya dimuat di Suara Merdeka
- ^ http://www.seasite.niu.edu/flin/literature/chairil-anwar_lat15.html
- ^ http://alwishahab.wordpress.com/2007/08/03/bertemu-pujaan-chairil-anwar/
- ^ "Chairil Anwar Legenda Sastra yang Disalahpahami", Sajak.Blogspot, diakses Juni 2007
Rabu, 31 Maret 2010
Tujuh Dasawarsa Sapardi Djoko Damono
Dalam sambutannya, sastrawan Goenawan Mohamad mengapresiasi karya-karya Sapardi Djoko Damono yang hingga saat ini masih dikenal masyarakat. Goenawan juga sedikit bercerita mengenai antusiasme masyarakat zaman dahulu yang begitu tinggi terhadap karya sastra. Setiap pembacaaan karya sastra selalu ramai dipenuhi oleh masyarakat yang ingin mendengarkan pembacaan sajak, puisi atau prosa dari para penyair terkemuka. “Dahulu orang datang untuk mendengarkan puisi seakan ingin mencari kebenaran,” ungkap Goenawan. “Kenangan itu seakan kembali kedalam ruang diteater salihara malam itu,” lanjutnya.
Suasana makin meriah ketika Happy Salma, Niniek L Karim dan Sitok Srengenge bersama-sama membawakan cerpen karya Sapardi yang berjudul Rumah-Rumah. Cerpen tersebut dibaca seakan mereka bertiga itu sedang berdialog. Kata-kata dan intonasinya terkadang membuat penonton tak tahan untuk bertepuk tangan.
Cerpen Rumah-Rumah secara garis besar bercerita tentang proses kelahiran sebuah rumah. Sapardi mencoba mengambarkan sebuah rumah yang dibangun oleh seseorang hingga selesai. Rumah itu dihuni oleh keluarga yang tidak harmonis. Ada rumah nomor 12 yang setelah selesai dibangun tak kunjung ada orang yang mau menghuninya. Juga ada rumah nomor 13 yang dianggap rumah hantu. Celoteh Rumah-rumah inilah yang kemudian membuat suasana perayaan 70 tahun sapardi Djoko Damono menjadi meriah.
Lain lagi dengan penampilan gitaris akustik Jubing Kristiano dan Umar Muslim yang membawakan tiga karya Sapardi, yaitu Ketika Jari-jari Bunga Terbuka, Dalam Bis, dan Nocturno. Karya-karya tersebut diaransemen ke dalam bentuk lagu demikian apiknya sehingga membuat penonton yang hadir memenuhi ruang Teater Salihara pun ikut berdendang dalam petikan gitar akustik yang mereka bawakan.
Musikalisasi puisi menjadi puncak acara peringatan ulang tahun Sapardi. Sebelumnya, di tempat yang sama digelar Kuliah Umum tentang Puisi Sapardi Djoko Damono dengan pembicara Nirwan Dewanto. Dalam Makalah setebal 19 halaman, Nirwan menguraikan khasanah perpuisian Indonesia khususnya puisi karya Sapardi Djoko Damono. Dia mengatakan bahwa pada intinya puisi Indonesia tidak bergerak ke kiri maupun kekanan karena ia adalah sebuah lanskap yang dipandang pada momen tertentu. “Puisi Sapardi Djoko Damono adalah sebuah obyek di latar tengah di mana latar tengah itu yang manghubungkan antara latar depan dan latar belakang,” kata Nirwan.
Sapardi telah menghubungkan bentuk persajakan dengan kepribadian penyair dan dalam hal ini tidak berbeda dengan sejumlah pengamat lain, seperti Subagio Sastrowardoyo, yang mengatakan bahwa sajak adalah persaksian pengalaman penyair dan tugas kritik sastra adalah membangkitkan pribadi penyair yang terbayang di dalamnya.
Kuatrin-kuatrin sapardi Djoko Damono sepintas saja berbentuk empat seuntai, bentuk formalnya, termasuk rimanya yang tertib rapi, tidak kuasa menghalangi baris-barisnya untuk menyusul dan memanjang. Frase-frasenya saling memisah dan menyatu ganti-berganti. Ketidakteraturan dalam kerapian itulah yang menghasilkan minimalisme, pemadatan dan penyulingan imaji, yang mewadahi makna si penyair. “Bukan puisi murni, tapi puisi yang bersih, yang menyembunyikan si pengujar di bawah abstraksi benda-benda, atau puisi yang terjatuh kedalam pelukan simbolisme dan imajisme,” jelas Nirwan.
Menurut Nirwan, puisi Sapardi adalah puisi yang dapat dicintai dengan sederhana. Puisinya tidak menuntut dan isinya selalu membuka diri. “Mungkin kita bisa menggemari puisi Sapardi Djoko Damono dengan bersahaja, karena ia genap dalam hal gramatika dan semantiknya,” tutur Nirwan.
Ditemui seusai acara, Sapardi Djoko Damono mengaku sangat bahagia dengan perayaan ulang tahunnya kali ini yang menurutnya begitu spesial. “Ternyata karya saya masih diminati oleh masyarakat, bukan saja dari kalangan tua saja namun dari kalangan muda juga begitu tinggi minatnya,” katanya. Di usianya yang sudah sepuh itu Sapardi mengaku masih ingin tetap bermain-main sebab seni menurutnya sebuah permainan. “Seperti halnya puisi itu sebenarnya adalah permainan yakni bermain dengan kata-kata,” tuturnya.
Kepada para seniman Indonesia dia berpesan agar tetap kreatif walau usianya tidak muda lagi. Sapardi sendiri bertekad akan terus berkarya walau usianya sudah semakin senja “Saya akan tetap terus menulis apa pun bentuknya nanti,” kata Sapardi. Dia berharap karya-karyanya bisa bermanfaat bagi orang banyak. “Penyair bisa mati namun karyanya akan tetap abadi selamanya,” katanya. (Herry Fitriadi)
Sumber: Tempo Interaktif (Selasa, 30 Maret 2010)
Sumber gambar: tongkronganbudaya.wordpress.com
Senin, 29 Maret 2010
Sayembara Menulis Novel Dewan Kesenian Jakarta 2010
Untuk merangsang dan meningkatkan kreativitas pengarang Indonesia dalam penulisan novel, Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) kembali menyelenggarakan Sayembara Menulis Novel. Lewat sayembara ini DKJ berharap lahirnya novel-novel terbaik, baik dari pengarang Indonesia yang sudah punya nama maupun pemula, yang memperlihatkan kebaruan dalam bentuk dan isi. Adapun persyaratannya sebagai berikut:
Ketentuan Umum
* Peserta adalah warga negara Indonesia (dibuktikan dengan Kartu Tanda Penduduk atau bukti identitas lainnya).
* Peserta boleh mengirimkan lebih dari satu naskah.
* Naskah belum pernah dipublikasikan dalam bentuk apa pun, baik sebagian maupun seluruhnya.
* Naskah tidak sedang diikutkan dalam sayembara serupa.
* Naskah ditulis dalam bahasa Indonesia yang baik.
* Tema bebas.
* Naskah adalah karya asli, bukan saduran, bukan jiplakan (sebagian atau seluruhnya)
Ketentuan Khusus
* Panjang naskah minimal 150 halaman kuarto, 1,5 spasi, Times New Roman 12
* Peserta menyertakan biodata dan alamat lengkap dalam lembar tersendiri, di luar naskah
* Empat salinan naskah yang diketik dan dijilid dikirim ke:
Panitia Sayembara Menulis Novel DKJ 2010
Dewan Kesenian Jakarta
Jl. Cikini Raya 73
Jakarta 10330
* Batas akhir pengiriman naskah: 30 September 2010 (cap pos atau diantar langsung)
Lain-lain
* Para Pemenang akan diumumkan dalam Malam Anugerah Sayembara Menulis Novel DKJ 2010 di Taman Ismail Marzuki, Jakarta, pada pertengahan Januari 2011.
* Hak cipta dan hak penerbitan naskah peserta sepenuhnya berada pada penulis.
* Keputusan Dewan Juri tidak dapat diganggu gugat dan tidak diadakan surat-menyurat.
* Pajak ditanggung pemenang.
* Sayembara ini tertutup bagi anggota Dewan Kesenian Jakarta periode 2009-2012.
* Maklumat ini juga bisa diakses di www.dkj.or.id
* Dewan Juri: Agung Ayu, Anton Kurnia, dan A.S. Laksana
Hadiah
Pemenang utama Rp. 20.000.000
Empat pemenang unggulan @ Rp. 7.500.000
Sumber: http://www.dkj.or.id/?opt=pages&cidsub=8&pages_id=549
Ketentuan Umum
* Peserta adalah warga negara Indonesia (dibuktikan dengan Kartu Tanda Penduduk atau bukti identitas lainnya).
* Peserta boleh mengirimkan lebih dari satu naskah.
* Naskah belum pernah dipublikasikan dalam bentuk apa pun, baik sebagian maupun seluruhnya.
* Naskah tidak sedang diikutkan dalam sayembara serupa.
* Naskah ditulis dalam bahasa Indonesia yang baik.
* Tema bebas.
* Naskah adalah karya asli, bukan saduran, bukan jiplakan (sebagian atau seluruhnya)
Ketentuan Khusus
* Panjang naskah minimal 150 halaman kuarto, 1,5 spasi, Times New Roman 12
* Peserta menyertakan biodata dan alamat lengkap dalam lembar tersendiri, di luar naskah
* Empat salinan naskah yang diketik dan dijilid dikirim ke:
Panitia Sayembara Menulis Novel DKJ 2010
Dewan Kesenian Jakarta
Jl. Cikini Raya 73
Jakarta 10330
* Batas akhir pengiriman naskah: 30 September 2010 (cap pos atau diantar langsung)
Lain-lain
* Para Pemenang akan diumumkan dalam Malam Anugerah Sayembara Menulis Novel DKJ 2010 di Taman Ismail Marzuki, Jakarta, pada pertengahan Januari 2011.
* Hak cipta dan hak penerbitan naskah peserta sepenuhnya berada pada penulis.
* Keputusan Dewan Juri tidak dapat diganggu gugat dan tidak diadakan surat-menyurat.
* Pajak ditanggung pemenang.
* Sayembara ini tertutup bagi anggota Dewan Kesenian Jakarta periode 2009-2012.
* Maklumat ini juga bisa diakses di www.dkj.or.id
* Dewan Juri: Agung Ayu, Anton Kurnia, dan A.S. Laksana
Hadiah
Pemenang utama Rp. 20.000.000
Empat pemenang unggulan @ Rp. 7.500.000
Sumber: http://www.dkj.or.id/?opt=pages&cidsub=8&pages_id=549
Kamis, 18 Maret 2010
Beberapa Puisi Perjalanan
Rambut Kenangan
bumi mekongga
kuseret kaki ke terminal sabilambo
angin getir sambil lalu
dan kau lunglai
ke teluk rindu.
rambutmu baja
rebutan angin pomalaa
dan gugurannya
menjelma baris-baris hitam
dalam sajakku
Istirah di Lembah Mowewe
serupa raung mesin mengebor rahim Mekongga
matamu pijar adalah puncak pinus
memergoki cakrawala.
aku istirah di lembah Mowewe
merenungi pertemuan kita yang merah
di dermaga kolaka.
sambil meradang memandang nanah tanah
di keruk baja dan raja
hidup seumpama perahu menjala
lalu kalah terdampar di tebing senja.
o, betapa merdeka gelombang
bergulung lalu berguling
di dada-dada pantai
sementara kita membilang butir pasir yang rekat
di tubuh pendosa.
kau kenangkah
isyarat dan tabiat
berkobar di deru waktu
sebagian seumpama lintah
yang lain, haus darah
lapar daging?
lembah Mowewe yang gaib, dingin dilingkari angin
aku memetik bunga merah
menancapkan di rambutmu, tembaga.
sebelum aus digerus gerigi
sebelum raib digasak hangus
aku istirah di lembah Mowewe
di lembah matamu yangt meleleh
Mowewe, 13 Agustus 2007
Tepi Hayat
jantungku angin mataku langit
seribu taifun mortir aku sejuta pasir
ledakan-ledakan kepala menyoraki gaza
aku seliat baja engkau sebetulnya busa
dari mulutmu luka dirajah tuba
di liang-liang pasir tepi barat
meletus anyir sampai ke tepi hayat
aku kembali ke tengah mayat
dalam baiat dalam rakaat berpeluru safaat
kusongsong engkau sampai tepi kiamat
kusongsong engkau sampai tepi kiamat
kau renggut tanah darah
kau reguk kembali di cangkircangkir neraka
nyala yang tumbuh di gaza
nyawa yang subur di palestina
Kendari, 23 Januari 2009
Surat dari Matahari
:Aceh
pagi gugur
matahari tampak kabur
disongsong keranda laut
anak-anak berdatangan menuju kubur.
tak sempat kuantarkan doa-doa
sebelum engkau
melesak ke terminal tuhan.
air mata langit
dan gerimis yang jatuh bersuara parau
mengguyur serambi ini
yang tinggal batu-batu
dan sebiji peluru.
pabila malam pulang
hanya udara yang datang sempoyongan
bercerita tentang sepucuk surat dari matahari
yang berlabuh di meulaboh.
Bekasi, 13 Juni 2005
Sungai Bara¹
sulur-sulur bakau menjaring subuh
liur-liur subuh menyaring kabut
pagi seperti kaca, bening di kedalaman hening
laut seperti kata, takzim di kediaman angin
aku menjelma lumut di rahim tanah
mencelup rindu ke sungai bara
oe anak istri
oe anak negeri
di sungai bara, batu cinta membara!
Tarakan-Kendari, Februari-Mei 2009
¹nama muara di Tarakan
Angin Magrib Pasar Kembang
untuk koto dan thendra
angin magrib mengeleparkan bau hitam
mengantar kami ke lembah ilham
yang bernyanyi dan berapi
di lorong-lorong fana, dewa dewi
laron-laron putih dan kumbang-kumbang abu
membakar udara dan menandaskan diri dalam pesta
rambut cemeti membetot betis itali
ditangisi badan jalan papa
badan dan gairah terebus rayu, kaca dan kata beradu
pecah, melukai punggung malam
aduh
sebuah lecutan membabat jantung
irisan senar mengelana di daging tulang
tubuh kami ranggas sepanjang api
terkapar mendidih dalam lumpur matahari
angin magrib pasar kembang
menggeletar ke jasad malioboro
musim haru makin panjang
menggelepar sampai ke solo
rambut kami dirambati kabut begadang
lalu sekuntum mawar berbau pepsi menggoda, hallo
kami meramal langit yogya yang abu
terharu diberondong mata biru
di tengkuk trotoar, terbenam jejak seorang sufi
terbentur di dinding puisi, dibopong dewata bali
kami berzikir di pasar samar
berdoa di antara botol magrib dan tarian isa
adakah gugur hujan badar
kami berkendara keranda
melaju ke pemakaman sleman
angin magrib jatuh
tersedu di pintu subuh
selamat pagi
Yogyakarta-Kendari, 2009
Pada Ribuan Bandar
dari teluk mandar
aku labuhkan ribuan jangkar pada ribuan bandar
aku terkapar dan tersadar, gigir dan terbakar
dalam pembakaran asar
aku lafazkan salawat badar, merangsek dari fajar ke fajar
cinta tak kuasa ditakar seperti menghitung alamat yang samar
sebelum aku mafhum, takdir dan takbir
bergeluruh dipeluk banjar
Kendari, 23 April 2008
Selasa, 09 Maret 2010
DUA SAJAKKU DI WWW.POETIKAONLINE.COM
Wangi-wangi
di pulau-pulau terjauh
gemintang bergetaran
perahu-perahu menjauh
lampu-lampu bertangisan
karang-karang berlagu
angin timur berserakan
ombak membuih
gugur jua di pangkuan karang
pasir memutih
pudar dalam aduhan malam
batu-batu mendesis
dirayapi angin terang
pantai menangis
ditinggalkan jangkar nelayan
pangkal teluk merah dan memar
dirongrong persenggamaan alam
gadis-gadis berdaging samar
lambaikan senyum tangiskan salam
kutinggalkan dermaga Wangi-wangi
angin gemetar merangkum nafasmu wangi
tahun depan, angin timur mengarak kenangan
aku datang mengepang rambutmu jadi delapan
Wangi-wangi, April 2008
Pare-pare
pagi letuskan bau buruh
menyembur ke udara subuh
ton demi ton badan dan barang
menumpuk dan mengerang
menghardik dan mengganyang leher dermaga
penumpang dan pencoleng
beradu rayu
sebelum lengking sirine
memanggil
pagi itu
dermaga pare-pare jadi bongkahan rindu
air mata dan sepi jadi bangkai perjalanan
Pare-pare, 14 Maret 2009
di pulau-pulau terjauh
gemintang bergetaran
perahu-perahu menjauh
lampu-lampu bertangisan
karang-karang berlagu
angin timur berserakan
ombak membuih
gugur jua di pangkuan karang
pasir memutih
pudar dalam aduhan malam
batu-batu mendesis
dirayapi angin terang
pantai menangis
ditinggalkan jangkar nelayan
pangkal teluk merah dan memar
dirongrong persenggamaan alam
gadis-gadis berdaging samar
lambaikan senyum tangiskan salam
kutinggalkan dermaga Wangi-wangi
angin gemetar merangkum nafasmu wangi
tahun depan, angin timur mengarak kenangan
aku datang mengepang rambutmu jadi delapan
Wangi-wangi, April 2008
Pare-pare
pagi letuskan bau buruh
menyembur ke udara subuh
ton demi ton badan dan barang
menumpuk dan mengerang
menghardik dan mengganyang leher dermaga
penumpang dan pencoleng
beradu rayu
sebelum lengking sirine
memanggil
pagi itu
dermaga pare-pare jadi bongkahan rindu
air mata dan sepi jadi bangkai perjalanan
Pare-pare, 14 Maret 2009
Langganan:
Postingan (Atom)