Ita Windasari

istriku. azan magrib mengulum matamu. alismu rebah terbangun. rambutmu yang magrib lelap di leherku. kuhikmati ranumnya seperti menyuntuki batubatu tasbih. merah di luar kamar bercengkerama di keningmu. matamu terbuka seumpama fajar terluka. bilal mengundang ke perjamuan magrib. menyantap sumsum alfatiha dan anggur arrahman.

Senin, 04 Oktober 2010

SAYA SUDAH TENANG KARENA ANAK-ANAKKU TELAH SALAT SEMUA


Kisah Kedua Puluh Sembilan





Judul di atas adalah pernyataan Ayah saya lebih lima belas tahun silam. Hal itu dikatakannnya di kampung, ketika kami, anak-anaknya, akan kembali lagi ke kota rantauan. Salat adalah kewajiban mutlak yang selalu diingatkan Ayah kepada kami anak-anaknya. Ayah merasa berdosa dan gagal jika salat saja tidak ditegakkan oleh kami.

Pesan Ayah itulah yang sampai kini terus kuingat, sehingga ketika akan meninggalkan salat atau pernah meninggalkan salat, saya langsung mengingat yang namanya dosa. Saya langsung merasa telah menciptakan dosa buat Ayah. Bukankah Ayah telah merasa tunai sudah kewajibannya kepada Allah di dalam memerintahkan anak-anaknya untuk selalu mendirikan salat?

Mungkin sekitar tahun 1989 ketika kakak perempuan saya satu-satunya, dirundung rasa takut. Umurnya saat itu sekitar 13 tahun. Ia mengadu kepada teman-teman perempuannya bahwa semalam ia lupa salat Isa, karena tertidur. Ia takut berdosa besar dan masuk neraka. Mendengar kakak saya lupa salat Isa, saya yang terpaut dua tahun darinya, merasakan kesedihan. Seberapa besar dosa orang yang lupa Salat? Apakah dosa orang lupa salat dan yang sengaja tidak salat, sama besarnya?

Demikianlah, sehingga kami ke delapan anak-anaknya tumbuh besar dalam tradisi ibadah salat. Jangan lupa agar anak-anak kalian kelak, juga mendirikan salat, sambungnya. Saya sudah memiliki seorang anak yang ketika kutulis kisah ini, berusia 1,7 tahun. Namanya Muhammad Faiz Raihan. Pada saat saya dan ibunya salat, harus disiapkan juga sajadah cadangan di samping, tempat ia salat sesukanya. Tentunya, rukun salatnya tidak sempurna. Ia hanya bilang, baaaaaaa… baaang. Ia memang baru belajar bicara. Mungkin maksudnya adalah Allahu Akbar, sebagaimana yang biasa ia dengar dari saya, Ayahnya.

Hal lain yang paling diingatkan oleh Ayah adalah agar rajin mengaji atau membaca Al Quran. Ayah termasuk keras soal yang ini. Ketika masih SD, saya dan juga ke tujuh kakak saya, sudah harus mengaji, dan telah lancar. Tidak segan-segan Ayah menggertak dan mencubit paha sampai memar jika ada salah ucap dan salah berulang-ulang dari kami.

Kakak ke empat saya, Nazaruddin Gani, pernah menghalami peristiwa masa-masa mengaji yang berkesan. Pada waktu itu, ia selalu tidak ada di rumah dan perkiraan Ayah ia berada di masjid untuk belajar mengji bersama yang lain. Suatu waktu, seusai makan malam, Ayah menengok orang-orang mengaji di masjid. Ia tidak melihat Nazaruddin di lingkaran pengajian. Mana Sukding, tanyanya. Sudah lama ia tidak mengaji, jawab peserta pengajian serempak. Saat itu, Ayahlah yang paling ditakuti di antara guru-guru mengaji yang lain.

Ayah lalu ke rumah dengan muka yang merah mencari Sukding, begitu panggilan akrabnya. Oh Sukding, umba muengei (di mana kau). Tidak ada jawaban. Di cari ke dapur, kolong ranjang, dan lemari pakaian tapi tidak ada. Dicari di bawah kasur pun tidak ada. Ayah marah. Ia lalu kembali ke pintu dan tiba-tiba berhenti. Dibukanya daun pintu dan di sana ia melihat Sukding duduk merangkul kedua lulutnya gemetaran karena ketakutan.

Dapatlah dibayangkan kemarahan Ayah. Ia lalu memegang Sukding, mencubit pahanya, dan disuruhnya ke mesjid. Apakah kamu mau masuk neraka jahanam, bentak Ayah. Kakak kami segera mengambil kopiah dan sarung, lalu lari ke mesjid. Kemarahan Ayah tentulah beralasan karena ia adalah imam Masjid Nurul Hidayah, tokoh masyarakat, dan Kepala Madrasah Tsanawiah Negeri Mambi.

Alhamdulillah, sekarang kakak kami itu kini adalah yang paling “banyak” bacaan dan pemahaman agamanya. Ia seorang qari  yang mantap. Jika azan, suaranya sangat indah. Sekarang ia sering jadi imam, khatib, sekaligus bilal di Masjid Nurul Iman, di kampung Loka, 5 kilometer dari Salubulung.

Sejak saya duduk di bangku Sekolah Dasar tahun 1987-an sampai sekarang, Ayah selalu dirundung berbagai penyakit. Mungkin sekitar tahun 1989, Ayah sakit keras. Dokter Puskesmas telah memberinya berbagai obat, tapi tak kunjung sembuh. Ibu malah telah memotong ayam kesayangannya untuk gizi Ayah, tapi penyakitnya tak kunjung reda. Ingatan yang tak kunjung kulupakan adalah ketika dilaksanakan salat idul Fitri tahun itu. Ayah diangkat ke masjid karena tidak dapat berjalan. Seluruh jemaah merasakan kesedihan yang dalam.

Jarak antara Salubulung kampungku dengan Polewali, ibukota Kabupaten Polewali Mamasa waktu itu, sekitar 200 kilometer. Kurang lebih 40 kilometer dari kampungku ke Malabo, jalan rusak berat. Mobil tidak bisa melewati jalan yang berlumpur. Akhirnya atas inisiatif keluarga dan warga dari berbagai kampung, Ayah dipikul di dalam sebuah tandu yang disebut lemba’ang, dari Salubulung ke Malabo. Sekitar jam delapan pagi, kami meninggalkan kampung.

Ayah pernah jadi imam dalam waktu yang panjang di Masjid Nurul Hidayah Salubulung. Beliau juga dianggap sebagai salah satu tokoh masyarakat di bidang keagamaan. Saya sering menemaninya berjalan kaki ke berbagai kampung untuk berceramah. Mulai dari jarak 2 kilometer sampai 10 kilometer. Ayah sering menyelesaikan konflik antar pemuda sampai konflik rumah tangga. Mulai pernikahan sampai perceraian. Mulai kelahiran (aqiqah) sampai kematian. Saya belum sekolah saat itu, ketika dua orang pasang remaja datang di rumah sebagai pasangan to silumpaang.Mereka sebetulnya dua pasangan, tetapi pasangan yang satu adalah topampasolai atau “yang menemani” pasangan tersebut. Dalam bahasa Indonesianya, silumpaang atau silariang artinya kawin lari.

Peristiwa yang tak kunjung saya lupakan adalah kericuhan yang hampir berbuntut perkelahian fisik, ketika merundingkan dua keluarga besar yang kedua anak-anak mereka silumpaang atau silariang.

Ketika kedua keluarganya datang mencari dan akhirnya dimusyawarakan pada beberapa malam setelahnya di rumah, keadaan tegang karena ketidakcocokan kedua pihak. Tiba-tiba salah seorang dari keluarga perempuan meloncat dari lingkaran musyawarah keluar pintu sambil bicara “lekbaak jolok mangngala pisoku” saya pergi dulu ambil parang. Sontak semua peserta berdiri dan mengambil sikap layaknya orang mau pencak silat. Rumah panggung kami ibarat tempat menumbuk padi yang dilakukan puluhan orang, karena bunyi kaki peserta musyawarah. Baik yang mau berkelahi maupun yang melerainya.

Saat itu karena masih kecil, saya lari dari rumah, menyusuri lorong-lorong kampung sambil menangis. Ibu datang mencari sambil menyebut-nyebut namaku lalu memegang tangan saya pergi menjauh. Oh Ibu, semoga kini engkau tengah menikmati kenikmatan alam Surga yang disediakan Tuhan.

Pernah lagi, saya pulang kampung sekitar tahun 1996. Saat itu, saya sekolah di SMA Negeri 1 Polewali. Malam harinya ketika sampai di rumah, datanglah sekitar 10 orang lelaki yang berbadan besar-besar. Saya kenal akrab mereka, karena masih ada hubungan keluarga. Dua di antaranya bermuka benjol-benjol seperti habis kena lemparan batu bertubi-tubi. Ternyata keduanya dibawa oleh keluarga masing-masing ke rumah untuk didamaikan oleh Ayah karena baru saja berkelahi di lokasi perkebunan cokelat. Setelah dirukunkan kembali, mereka pulang ke kampung dan bekerja seperti biasa dengan hati tenang.

Satu hal lagi yang lekat di ingatanku, tentang idealisme Ayah. Saat itu ‘kan masih jaya-jayanya Orde Baru. Setiap tiba masa pemilihan umum, yang menang pasti Golkar. Urutan kedua dan ketiga, PPP (P3) atau PDI. Saat itu, mungkin sekitar tahun 1996, Ayah menjadi pengurus pemungutan suara di kampung. Ketika para pengurus pemungutan suara atau pengurus pemilu akan disumpah, Ayah memilih tidak mau disumpah. Katanya, sangat berat akibatnya jika kita tidak jujur. Apalagi saat itu, penuh dengan kecurangan dan ketidakjujuran. Saya sendiri ikut memilih saat itu, dan melihat secara langsung, kartu suara yang tidak memilih salah satu gambar partai yang berkuasa, maka langsung dinyatakan sebagai kartu rusak atau tidak sah. Di kemudian hari ketika menjadi mahasiswa, saya akhirnya tahu bahwa praktik-praktik culas itulah yang selalu mewarnai pemilihan umum dan dianggap sebagai sebuah kewajaran.

Ya, rumah kami tepat berada di tengah kampung, berdampingan masjid Nurul Hidayah. Sekitar empat jam rombongan pemikul Ayah dan kami sekeluarga meninggalkan kampung, banyak ayam yang tiba-tiba menggelepar lalu mati, sejak dari rumah sampai meninggalkan kampung. Menurut “orang pintar” Ayah kena guna-guna. Jika ditarik garis lurus, dari rumah kami di depan jalan sampai bagian belakang, ayam-ayam yang sebelah rumah kami ke sana, sehat-sehat saja.

Cerita kematian banyak ayam yang dimulai dengan menggelepar-gelepar, lahir dari Daeng Lasigi. Dia adalah orang yang mengawal kuda pembawa makanan dan minuman para pemikul ayah. Sekitar empat jam kami berjalan kaki dan menunggu Daeng tiba, ia tak kunjung juga datang. Kami rombongan pendamping dan pemikul Ayah merasakan rasa haus dan lapar. Tak lama kemudian, Daeng datang bersama kudanya yang menggandeng makanan. Ia lalu bercerita kenapa sampai terlambat.

Begini ceritanya. Beberapa menit kekita ia meninggalkan kampung, tiba-tiba orang-orang berteriak bingung karena ayam-ayamnya pada menggelepar. Mendengar teriakan itu, Daeng balik ke kampung dan ikut jadi saksi fenomena langka itu. Ia melihat langsung ayam-ayam yang mulai dari rumah sampai ujung kampung, menggelepar lalu mati. Orang-orang berinisiatif untuk menyembelih yang masih hidup. Karena laki-laki dewasa di kampung sebagia besar ikut memikul Ayah, maka Daeng-lah yang bertugas menyembelih ayam yang jumlahnya puluhan itu. Mendengar cerita demikian, kami menjadi kaget dan mengucapkan astagfirullahal azim. Kepada Allah kami serahkan semuanya.

Umur Ayah sekitar 65 tahun ketika ia tidak sanggup lagi bekerja secara fisik. Jika ia ke ladang memetik cokelat, ke sawah mencangkul, atau ke hutan memotong kayu, malam harinya akan langsung sakit. Ibu yang beda sekitar 15 tahun dengan Ayah (Ibu lebih muda) banyak mengambil pekerjaan. Ibulah yang mengurus sawah, menanam beraneka sayur dan membersihkan rumputnya, juga memasak di dapur. Ibu jarang sakit sedangkan Ayah hampir tiap bulan pernah diserang penyakit.

Ayah seorang pensiunan kepala sekolah Madrasah Tsanawiah Negeri Mambi, empat kilometer dari Salubulung. Ia jalan kaki pulang pergi dari kampung ke Mambi untuk menjalankan tugasnya. Ibu tamatan SR (Sekolah Rakyat) saja. Makanya Ibu tidak punya pekerjaan alias jadi ibu rumah tangga yang baik. Gaji sebagai PNS itulah yang membiayai sekolah kami yang delapan orang itu. Lima orang bekerja di instansi pemerintah dan tiga orang membangun pekerjaannya sendiri.

Di masa-masa seperti ini, yakni saat-saat mengenang lagi masa-masa lalu bersama Ayah, Ibu, dan saudara, tiba-tiba saya ingin meloncat ke masa lalu. Bermain hujan di bawah kolong langit atau moballo yakni menangkap ikan menggunakan petromaks sepanjang sungai di malam hari. Di malam ketika pergi moballo dan sudah mendapatkan ikan, di bagian atas sungai yang berhutan-hutan sering terdengar suara pop...pop…pop…pop..pooooop, yang diyakini sebagai suara poppak atau poppok sejenis makhluk pemangsa manusia. Jika suara itu terdengar mengikuti, itu berarti dia minta jatah ikan tangkapan. Maka topoballo atau pencari ikan, langsung melempar ikan ke sumber suara sambil berteriak, “lekbakmako to’o le mua halii muande indee baremu” atau pergilah kau kalau sudah kau makan ini jatahmu”. Lalu suara itu hilang. Hehehehe.

Pada hari Rabu, 24 Desember 1987, terjadi banjir besar yang melanda Salubulung. Banjir besar ini juga melanda wilayah Pitu Ulunna Salu, Kabupaten Polewali Mamasa, dan bahkan seluruh wilayah Indonesia. Umurku baru sepuluh tahun. Kami luput dari kematian yang sesungguhnya sangat mungkin terjadi. Biasanya, setiap malam kami bermalam di ladang untuk mengantisipasi datangnya babi hutan yang memakan coklat dan merusak sayur-sayuran. Tapi karena malam itu adalah malam pasar di Mambi, ibu kota kecamatan, maka kami menginap di rumah saja untuk mempersiapkan sayur-sayuran yang akan dijual Ibu di pasar.

Sudah sekitar seminggu hujan mendera kampung. Jam dua malam, tiba-tiba terdengar suara mengguruh di atas lembah, tempat ladang kami. Terdengar lolongan orang dari atas bukit dan menyeru-nyeru bahwa terjadi tanah longsor hebat. Maka kami semua satu rumah dan warga kampung keluar rumah menyaksikan fenomena alam yang menggetarkan itu. Rumah sepupu di depan lembah, porak-poranda digasak longsoran tanah.  Jam enam pagi, tanah longsor semakin Berjaya saja. Sebuah batang pohon besar menabrak tiang rumah kami, mengakibatkan rumah kami jadi timpang. Gubuk kami yang seharusnya kami tempati malam itu, terkubur keganasan tanah. Seluruh warga Salubulung mengungsi ke sebuah kampung kecil yang bernama Tantallak.

Di Tantallak itulah kami ketahui bahwa Ayah tengah terkurung di tengah sungai Mambi yang ganas. Ayah baru pulang dari Polewali dan karena rasa penasaran, ia nekad menyeberangi sungai yang banjir untuk mengetahui keadaan kami. Ayah membuka pakaian, tinggal celana pendek saja yang ia kenakan. Pakaiannya ia angkat ke udara lalu menyeberang. Karena sungai dalam dan deras, Ayah lalu terbawa arus. Di tengah sungai ia melihat batu yang masih mencul ke atas. Ia mengarah ke sana lalu memeluk dan bertengger di atasnya. Batu itu masih sering dilewati arus sungai yang deras. Ayah lalu menghanyutkan dirinya ke batu yang lebih besar di belakangnya. Kurang lebih dua puluh meter lagi, terdapat daerah sungai yang rendah dan memiliki putaran arus yang ganas. Jika Ayah terseret ke sana, maka mungkin….

Mendengar berita itu, Ibu dan kami anak-anaknya diliputi kesedihan. Kakak perempaun saya membentur-benturkan dirinya di tanah, takut kehilangan Ayah tercinta. Siapa rela kehilangan kepala rumah tangganya.

Berita menyebar dan orang-orang dari berbagai kampung datang. Ratusan orang memadati tepi sungai. Ayah duduk kegigilan di atas batu. Batu itu seperti hidup, menumpu Ayah agar tidak terseret tangan-tangan arus yang kekar.

Beberapa orang kuat mencoba menyeberangi sungai, tapi tak sanggup melawan arus yang menggelar keperkasaannya. Ayah adalah tokoh utama saat itu. Ia pusat perhatian. Di antara kerumunan ratusan orang-orang yang rela dan ikhlas membantu menyelamatkan Ayah, terdapat saya anaknya yang diselimuti duka dan cinta. Air mataku yang bening hanyut bersama derasnya sungai yang coklat.

Orang-orang lalu menebang pohon betung yang tumbuh di tepi sungai. Di ujung bambu diikatkan tali besar dan di ijung tali diikatkan pula sebuah kayu sebagai pegangan Ayah. Bambu itu lalu diulur ke Ayah dan Ayah memegangnya. Terjadilah tarik-menarik antara Ayah, orang-orang tercinta, dan arus sungai yang deras.

Detik-detik inilah yang paling rawan dan menentukan. Jika tali putus, atau orang-orang kalah kuat dibanding arus sungai, maka Ayah akan pergi bersama air, ke laut yang jauh.

Ibu-ibu yang berdiri di tepi sungai agak ke atas, tak henti-henti memanjatkan doa kepada Langit sambil berdamai dengan air mata. Puluhan orang-orang menarik bambu. Ayah berpegang kuat di kayu ujung tali. Arus sungai tak henti menderas. Suara arus sungai mengumandangkan tanda-tanda akan kekuatan alam, kekuatan Tuhan. Doa, keikhlasan, dan pengkabulan Tuhanlah yang membantu Ayah sampai di darat. Badan Ayah seumpama belut tua yang gigil, bergetar, dan kepayahan. Dan orang-orang pada menyalami dan memeluk Ayah.

Ibu, saya, dan kakak-kakak ikut pula mendaratkan pelukan saying pada tubuh Ayah yang ringkih dan purba. Tuhan selalu menolong hamba-Nya di saat-saat paling rawan sekalipun.

Saya kembali ke kisah awal tentang Ayah. Sampai di Malabo sekitar jam enam sore. Di kota kecil yang diapit gunung itulah Ayah sempat berkata, “mungkin penyakit inilah yang akan mengantarku ke Sana”. Kami anak-anaknya hanya bisa menguatkan Ayah dan berdoa. Hal yang membuat saya paling sedih adalah karena saya tidak dapat menemani Ayah ke Polewali. Saya harus pulang ke kampung untuk sekolah (SD). Di rumah, ketika malam tiba, terasa sangat panjang dan dipenuhi rasa rindu dan kesedihan yang dalam.

Ketika Ayah sampai di Polewali dan masuk rumah sakit umum, secara medis penyakit Ayah tidak ada. Hasil foto rontgen pun tidak menunjukkan adanya kelainan di dalam tubuh Ayah. Anehnya, Ayah merasa sakit, panas, demam dan seakan-akan ada benda hidup yang selalu bergerak di kakinya. Pergerakan benda hidup itulah yang mengakibatkan rasa sakit.

Ayah lalu keluar dari rumah sakit tidak dalam keadaan sembuh sebagaimana seharusnya. Beberapa bulan setelah keluar, Ayah diobati secara nonmedis, dan alhamdulillah, atas izin Allah, Ayah sembuh.

Di sinilah, Allah menunjukkan kekuasaan-Nya. Sejak dihinggapi penyakit “aneh” itu sampai sekarang, Ayah dikaruniai umur panjang. Ibu yang jarang sakit, dipanggil terlebih dahulu oleh Allah. Begitu pula dengan keluarga yang memikul secara bergantian dari Salubulung sampai Malabo, kini sudah banyak yang tiada. Alhamdulillah, Ayah masih dapat beribadah di sisa umurnya, meskipun sudah sangat sering masuk rumah sakit. Masih sangat jelas ekspresi wajah Ayah ketika melepas Ibu dari rumah duka di Polewali ke tempat peristirahatan terakhir April 2010 lalu, ia merelakan air matanya keluar sambil berkata seakan berpesan “O indona Hasa, penjolongko” (O Indona Hasa, duluanlah). Indona Hasa adalah panggilan keakraban/kesayangan dari Ayah dan kami anak-anaknya kepada Ibu. Hasa(nuddin) adalah anak pertama Ayah dan Ibu.



Maaf, saya harus diam sejenak. Saya mengenang lagi Ibu. Saya juga mengenang Ayah.



Ramadan 1431 Hijiriah ini, sebetulnya Ibu dan Ayah berkeinginan agar kami anak-anaknya lebaran bersama di Salubulung. Dan kami semua telah mengiakan. Ibu sudah mengingatkan pada pembicaraan di telepon bahwa Lebaran kali ini, kita satu keluarga akan berkumpul di kampung. Akan tetapi, sebelum Ramadan datang, yakni 24 April 2010, Ibu berangkat duluan ke haribaan Ilahi. Kami anak-anaknya berkumpul di Polewali untuk melepas keberangkatan Ibu. Rencana lebaran bersama, merayakan kemenangan di 1 Syawal, tidak terjadi. Manusia memiliki keinginan, Tuhan memiliki keinginan. Keinginan Tuhanlah yang selalu terjadi.

Untuk menghormati jasa-jasa Ayah kepadaku, kepada saudaraku yang lain, dan kepada Ibu, kupersembahkan puisi ini untuknya di usianya yang ke delapan puluh dua tahun.



Untuk Ayah Yang Menjernihkan Air Mata

Abdul Gani Djalil



engkau berumah di atas sajadah

menanam doa-doa dan menjernihkan air mata

bila tikaman jam menancap di daging waktu

engkau bangkit di atasnya

memandang ke hulu cahaya

ada senja terhidang malam berlinang



dan jari-jari angin

menangkap longsoran usiamu

kaki-kaki hujan

menyusuri kanal lukamu

lalu ia membawanya ke telaga itu

mencuci perihmu memastikan usiamu



kudapati engkau di kamar memar

lelap di rangkulan sajadah

dan bulu-bulu usia

mengelus mimpimu mengecup ubanmu

membiarkan nafasmu berhembus

di alun-alun firdaus.



Kendari, Februari 2008



Kini, di tahun 2010 ini, Ayah sudah tua. Umurnya 82 tahun. Ayah sudah semakin sering sakit-sakitan. Ia tidak lagi berperan seperti ketika masa-masa tahun 1860-an sampai 1980-an. Fisiknya sudah lemah dan secara psikis juga sudah tidak mampu untuk memikirkan dan menyelesaikan banyak persoalan, seperti yang sebutkan di awal. Tetapi kegiatan yang tidak dapat ditinggalkannya adalah membaca. Sebelum tidur ia harus membaca. Bacaanlah yang membawanya tidur. Masih kuingat ketika saya masih sekolah di SD Inpres Salubulung, tumpukan majalah Suara Masjid, lembaran agama dan buku-buku agama menghiasi kamarnya. Dari sanalah saya mulai belajar membaca.

Di majalah Suara Masjid itulah saya membaca kisah tragis seorang serdadu Afganistan yang menyurat kepada istrinya, Anna Karenina, tentang detik-detik kematiannya. Sang suami sementara diikat oleh tentara Uni Soviet di sebuah bom dan akan diluncurkan dari atas udara, ke bumi. Saya tidak tahu, apakah surat itu adalah karya fiktif atau memang kejadian sebenarnya. Saya tidak peduli. Saya jatuh cinta pada bacaan itu. Saya membayangkan bagaimana suasana batin sang suami ketika menghadapi saat-saat kematiannya. Bagaimana pula keadaan hati sang istri tercinta ketika membaca surat suaminya itu? Surat itu kubaca berulang-ulang sampai awal paragrap pertama kuhapal di luar kepala, seperti ini:

“Di antara gunung-gunung Afganistan dan bukit-bukit batunya, kutulis suratku untukmu yang terakhir. Benar yang terakhir. Sesudah itu, hanya beberapa jam lagi, aku akan meninggalkan dunia yang fana ini”

Masih adakah majalah itu sekarang, Ayah? Aku ingin membacanya lagi. Seandainya Ayah menulis semua kisah perjalanan hidupnya, mungkin berbuku-buku sudah engkau lahirkan. Tetapi karena Ayah tidak sempat menulisnya, maka kuniatkanlah menulis kisah kebaikan dan pengalaman hidupmu ini Ayah. Sungguh! Kelak ketika ada pihak yang berniat mulia menerbitkannya, di kemudian hari, orang-orang akan membaca kisahmu, mengambil hikmah dan cinta dari padanya.

Ya, meskipun mungkin, engkau, juga aku, tidak akan pernah membacanya lagi…

Jumat, 01 Oktober 2010

PERNYATAAN DAMAI TIDUNG-BUGIS DI TARAKAN, 1 OKTOBER 2010

Pernyataan Kesepakatan Damai Pertama:

1. Mengakhiri segala bentuk pertikaian dan membangun kerjasama yang harmonis demi kelanjutan pembangunan kota tarakan khususnya dan kalimantan timur pada umumnya;
2. Memahami bahwa apa yang telah terjadi adalah murni persoalan tindak pidana dan merupakan persoalan individu, bukan persoalan kelompok/suku/agama;
3. Menye rahkan penanganan persoalan tersebut kepada aparat yang berwajib sesuai ketentuan hukum yang berlaku;
4. Bersepakat melaksanakan pembubaran konsentrasi massa yang ada di semua tempat sekaligus melarang, mencegah, membawa, menggunakan senjata tajam, senjata lainnya di tempat-tempat umum sesuai perundang-undangan yang berlaku;
5. Menghormati tradisi dan adat istiadat yang berlaku sebagai upaya meningkatkan dan mempererat tali silaturahim dan persaudaraan sebagai warga Kota Tarakan sesuai dengan kata pepatah dimana bumi dipijak disitu langit dijunjung;
6. Masyarakat yang berasal dari luar kota Tarakan dari kedua belah pihak yang berniat membantu penyelesaian perselisihan agar segera kembali ke daerah masing-masing selambat-lambatnya satu kali dua puluh empat jam;
7. Semua pengungsi di semua lokasi akan dipulangkan ke rumah masing-masing difasilitasi oleh pemerintah kota Tarakan dan aparat;
8. Diharapkan pemerintah kota Tarakan dan pemerintah provinsi Kalimantan Timur membantu kerugian-kerugian materiil dan immateriil yang dialami semua korban dari kedua belah pihak;
9. Apabila setelah pernyataan kesepakatan damai dari kedua belah pihak dilanggar, maka aparat yang berwenang akan mengambil tindakan tegas sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku.
10. Mensosialisasika n hasil pernyataan kesepakatan damai ini kepada seluruh masyarakat Kota Tarakan terutama warga kedua belah pihak.

Pernyataan kesepakatan damai kedua Tarakan

1. Nama; AP. Abdul Wahab (45), warga Kelurahan Kampung Satu Skip RT.13 RW.02 No.24, atas nama keluarga almarhum Abdullah bin H.Salim yang meninggal dunia pada Minggu 26 September 2010, pukul 23.30 wita di kelurahan Juata permai disebut sebagai pihak pertama.
2. Sudding (55), warga Kelurahan Juata Kerikil selaku paman atau wakil keluarga yang diduga terlibat pertikaian di kelurahan Juata Permai disebut sebagai pihak kedua. Para pihak bersepakat saling memaafkan dan terhadap para pelaku tindak pidana tetap diproses secepatnya sesuai ketentuan hukum yang berlaku.

Pernyataan kesepakatan perdamaian ketiga Tarakan:

1. H Abdul Wahab (65), suku Tidung, alamat Jl.KH Agus Salim Selumit sebagai pihak pertama
2. H. Sani (65), suku Bugis, alamat Jl.Gajah Mada Simpang Tiga sebaai pihak kedua.
Para pihak
a. Bersepakat untuk saling bekerjasama memberikan perlindungan keselamatan dan keamanan terhadap ancaman perampokan atau tindak pidana lainnya di laut
b. Bersepakat menyelesaikan permasalahan secara kekeluargaan bila terjadi kesalahpahaman dan jika tidak dapat diselesaikan, maka penyelesaikan selanjutnya diserahkan kepada aparat penegak hokum yang berwenang
c. Bilamana kesepakatan ini dilanggar, maka masing-masing pihak bersedia dituntut sesuai ketentuan hukum yang berlaku. (Radar Tarakan/JPNN)

Kamis, 02 September 2010

Mata Bisu



suara-suara dari daging kering
dan warna merah menyalak dan melalap tulang-belulang nasib
tak ia hiraukan karena ia si mata bisu

sebongkah hijab mengurung matanya yang sesungguhnya cemerlang
menjadi legam dan karam
dari denyut ribuan aduh
yang tergodam di liang-liang aib

ribuan jantung menggenang di lumpur terik
sebelum meletus jadi mayit

oe si mata bisu
dilumuti katarak kuasa
memiliki seribu cadangan nyawa
ia kunyah api, ia mamah belati
mengutuk ia jadi si mulut buta
dan memahatnya jadi tugu lupa

ia mulut buta
tak melihat mulut buka
ia mata bisu
tak melihat warna janji, pelangi hitam semata

semata bisu

Kendari, 2 September 2010

Sabtu, 21 Agustus 2010

Kembali Terkenang Para Kekasih (2)

Rindu tergaru musim baharu luka yatimpiatu
Kenangan tersaruk-saruk di hutan-hutan Anduonohu
Bukit marun angin harum
kota kabur nasib kardus
Menggiurkan kata-kata mengharukan segenap mata

Di pantai Abeli, sayup-sayup pedih dari sepasang kedasih
Di lembah janji, letupan api membakar segenap sumpah

Kembali terkenang para kekasih
Oh bunda yang jauh oh winda yang berlabuh
Oh negeri tempurung oh nasib tengkorak oh lambung terkurung
Waktu adalah surga
Janji semata lidah api
Jarak ialah sajak

Di bawah telapak sunyi marcapada oh baradurjana tungkunusantara
Aku digonggong musim kerinduan dirongrong muslihat lidahjanji
Yang berkepanjangan

Kendari,24 Juli 2010

Minggu, 01 Agustus 2010

Nyanyian Pelepas Rantau Anak Butuni



(Saya sangat berbahagia karena mendapat kiriman nyanyian ini dari sahabat saya La Ode Yusri. Nyanyian ini, ditembangkan sang ibu tercinta, kala melepas anaknya pergi merantau, mereguk ilmu pengetahuan ke negeri orang. Ini adalah tradisi yang masih berlangsung, khususnya di Gu, Lakudo. Agustus ini, La Ode Yusri akan berangkat ke Yogyakarta, menuntut ilmu di sana. Nah, inilah nyanyian dari sang bunda, yang mengantar ananda tercinta). Mengandung filsafat kebutonan, sejarah Buton, perang dengan Kerajaan Gowa, dan juga soal kejatidirian sebagai la ode).

Oleh: La Ode Yusri

Ngkolee..
Kini waktumu tiba
Tanah Jawa memanggilmu datang

Kalau pergi, pergilah
Tapi ingatlah kau pada ini tanah
Tanah tempat kali pertama
Darah kau mengalir basah
Tanah tempat kali pertama
Kau hirupi udaranya
Tanah tempat kali pertama
Kau lolongi ia dengan tangismu
Tanah tempat arimu
Ditanamkan
Gu Lakudo-mu
Serambinya Butuuni
Selirnya munajat
Ingat-ingatlah kau Nak..
Sebagaimana Murhum
Rindu pada tanah ini
Lalu mengambilnya masuk
Dalam rengkuh kuasanya
Sebagaimana Wolio
Agung meninggikan tanah ini
Tak ada lakina dari tanah ini
Yang sembah turunkan topi
Setiap kali maju menghadap sultan
Sebagaimana telah diadatkan
Diwajibkan pada lakina tanah lain
Sebagai balas atas budi
Karena tangan dari tanah ini
Umbunowulu ditekuk takluk
Negeri bangkang menantang
Kuat merongrong kesultanan
Melawan tak patuh titah Sultaan
Bahkan kapal-kapal utusan kerajaan
Tak pernah sampai menjangkau tanah negeri itu
Terkenal sakti dan bertuah mantera negeri itu
Dari puncak gunung Sabampolulu
Mereka melayangkan berpuluh batang kelapa
Pada kapal-kapal penakluk kiriman kerajaan
yang masuk teluk lasongko ataupun selat Baruta
menujui tanah mereka
Atas kendali mantera tuah teluh negeri itu
Batang-batang kaku mati itu
Meluncur gesit menderu
seperti mengandung membawa nyawa
Menghantam tepat di lambung kapal
Menghujam keras merusak palka
Menyobek serak kain layar kapal
Tenggelam karam sebelum mencapai tanah negeri itu

Itulah kemudian kesultanan murka
Susun siasat penaklukan
Memakai tangan tanah ini
Memakai tangan tanah ini anakku!

Maka kau jangan rendah diri
Tak usah pula tinggi hati
Darah kau itu
Darah kaomu
Darah la ode
Yang mengalir turun
Dari Lakilaponto
Raja kelima tanah Wolio
Sultan pertama Tanah Butuuni
Muhammad Yisa Kaimuddin gelarnya
Timbang-Timbangan panggilannya
Murhum dipanggil setelah wafatnya
Yang dengan tangannya
Membunuh Labolontio
Bajak tangguh Tobelo
Sakti kuat perkasa
Membawa kebal pada tubuhnya
Parang tombak dan panah
Tak mempan lukai kulitnya
Segan dekat pada daging tulangnya
Lantak jatuh membanting diri ke tanah
Sebelum sampai mengenai tubuhnya
Itulah ia sombong serakah
Merasa diri kuat tak terkalah
Ia bangun aliansi bajak rompak
Dan memimpin sendiri armadanya
Menggasak lautan
Melindas tanah pesisir kerajaan
Menyimpan Luwuk dan Wawonii
Konawe dan Laiwui
Dalam genggam kuasanya

Mimpi menggoda mengais benaknya
Buton di mata ditujunya
Berangan ia akan indah jadinya
Kalau Buton takluk dalam kuasanya pula
Maka diaturlah siasat penaklukan
Barata-barata dahulu
Harus dilumat habis semua
Sebelum mengulum genggam Wolio
Matana-matana sorumba dahulu
Harus digulung serata datar tanah
Dibuat merangkak rangkak kalah
Sebelum menekuk surukkan Wolio

Abdi intai kerajaan
Tergopoh datang merangkak
Menghambur diri dalam sembah
Di muka kaki Mulae yang mulia
Sampaikan kabar Labolontio
Yang telah dekat di depan mata
Telah di muka laut Kulisusu

Tersiar cepat kabar itu
Menggundahkan Raja Mulae
Menggelisahkan hati Sangia Yi Gola ini
Beliau tahu diri
Tak setanding kuat Labolontio
telah tua ia
Dimakan usia umurnya
Diambil waktu tenaga kekuatannya
Tak mungkin kuat menandingi Labolontio
Yang muda bugar kuat perkasa
Raja rompak lautan
Raja bajak lautan

Maka dibuatlah sayembara
Disiarsebarkan pada khalayak semua
Siapa-siapa saja
Dapat membunuh Labolontio
Membawakan kelelakiannya
Di muka hadapan raja
Sebagai bukti terbunuhnya
Akan diambil sebagai menantu raja
Menikahi putri ayu jelita kerajaan
Anak satu-satunya
Yang keluar lahir dari rahim permaisuri
Putri Borokomalanga namanya

Datanglah kemudian Lakilaponto
Putra yang Mulia Sugimanuru
Raja penguasa Tanah Muna
Ikut bersamanya Opu Manjawari
Raja penguasa Selayar
Juga Betoambari
Bersekutu mereka tekuk Labolontio
Di pantai laut Boneatiro

Awalnya Betoambari maju
Beradu tangkas gerak silat
Tapi ia kalah gesit
Dipukul jatuh si bajak rompak itu

Manjawari pun maju
Dalam gerak silat memukau
Tapi si bajak mata satu itu
Tak gentar surut nyali
Ia sigap dalam siaga
Menunggu tiba gerak maju Manjawari
Menyambutnya
Merangsek ia maju
Bergulat mereka dalam gelut
Beradu kebal kanuragan
Saling tikam menusuk
Tak ada kalah mempan
Kulit mereka keras menembaga
Tak tertembusi pisau besi
Tak terlukai parang besi
Tapi kemudian Manjawari tersuruk kalah
Disepak jatuh Labolontio

Majulah kemudian Lakilaponto
Dalam gerak silat yang kacau
Melangkah kempang pura-pura
Membahakkan ketawa Labolontio
Pulanglah kau kembali
Sebelum kulumat serupa dua kawanmu itu
Mereka yang kuat sempurna saja
Kutekuk takluk tak berkutik
Apalagi kau yang cacat melangkah kempang
Mengatur dirimu melangkah saja
Kau tak kuat susah sekali
Bagaimana bisa kalahkan saya?
Bagaimana berani melawan saya?

Lakilaponto terus merangsek maju
Mengikut komando raja Mulae
Tak hirau pada bahakan Labolontio
Ia maju mendekat tepat di muka Labolontio
Labolontio menarik langkah siaga
Keduanya kemudian bergelut adu kuat
Bergulat adu otot
Saling ganti menusuk tikam
Pada kulit mereka yang menembaga
Tak ada mempan
Tak ada kalah
Pisau parang dari besi itu luluh
Lantak jatuh membanting diri ke tanah

Keduanya mengambil langkah mundur
Mengatur jarak siasat
Segenggam pasir tanah laut
Dalam kepal Lakilaponto
Disembur tepat di muka Labolontio
Penuh mengenai mata satu-satunya
Labolontio linglung dalam panik
Tak dapat ia melihat
Hanya gelap saja
Gerak silatnya kacau
Ia meraung serupa kerbau kena
Memukul kenai angin saja
Hilang tuah mantera kebalnya
Dalam gerak cepat serupa kilat
Lakilaponto gesit menarik keris
pada pinggangnya
keluar dari sarungnya
ia hunus keris itu
ditusukkan pada dada
tepat di jantung Labolontio
keris bawaan dari lahir itu
ampuh bertuah juga rupanya
kebal Labolontio ia tembusi
memuntahkan habis keluar darahnya
dan mati.

Darah kau itu
darah kaomu
darah la ode
yang mengalir turun
dari Lakarambau
Sultan Buton bijak bersatu
menantang bak karang batu
keras kuat kokoh menyatu
tak gentar melawan lawan
maju merangsek penuh heroik
mengusir pulang Belanda
ke barak-barak kumuh sembunyian mereka
mengobar jihad agama sahih
pada setiap gerak majunya
biarlah diri hancur melebur tanah
asal negeri selamat aman sentausa
negeri selamat aman sentausa
jikalau ada sara mengaturnya
mengatur itulah agama pedomannya

darah kau itu
darah kaomu
darah la ode
yang mengalir turun dari Langkaririy
Sultan Buton raja Kamaru
Sakiyuddin Duurul Alam gelarnya
Bangsawan Kumbewaha
Yang memutus tak boleh
Lelaki Walaka kawin menikah
Dengan perempuan Kaomu
beranakkan ia Balu i Gu
puteri cantik nan jelita
bersuami Kapitalao Lakudo
berdiri ia tegak berani
di muka sidang Siolimbona
Menolak tegas bangsawan barata
Disamasetarakan bangsawan Kamboru mboru
Bangsawan kolaki tak ia bolehkan
Memimpin negeri

Darah kau itu
Darah kaomu
Darah la ode

Tahukah kau?
Ketika dua puluh ribu pasukan Gowa
Kiriman Hasanuddin datang menyerang ini tanah?
Sebagai murka atas ulah Buton melindungi Arupalakka
Dua puluh ribu pasukan Gowa
Di bawah komando Karaeng Bontomarrannu
Berarak maju dalam derak serak
Pinisi-pinisi penuh prajurit lengkap tameng artileri
Maju berarak dalam parade teratur
memerahkan laut teluk Buton
hendak menggasak lindas ini tanah
Kitalah di barisan paling depan
Sebagai Matana Sorumba
Pasukan inti paling depan
Pelindung jaga kesultanan
Maju gagah berani menghalau lawan
Kitalah yang Mia Sambali ini
Berjuang menumpah darah untuk mulia agungnya Sri Sultan
Kitalah yang Mia Sambali ini
Yang berdiri mengawal lindungi Keraton
Agar tak masuk ditembusi lawan
Kitalah yang Mia Sambali ini
Penakluk musuh-musuh kesultanan
Kitalah yang Mia Sambali ini
Menggiring lima ribu pasukan Gowa
Sebagai tawanan ke Liwuto
Kitalah yang Mia Sambali ini
Yang menyiutkan nyali Bontomarrannu
Kesatria Gowa yang tak pernah merasai kalah
Takluk tunduk, pulang membawa malu
Sebagai pecundang kalah
Di muka teluk Bau Bau

Ngkolee..
La ode itu taklah perlu tampil tunjukkan diri
Itulah tak kau dapati
Di tanah ini,
Tak ada seorang pun sematkan itu pada namanya
Karena hakikatnya telah ode-lah semuanya
Sebagaimana yang mulia
Tak patut memanggil yang mulia
Pada yang mulia lainnya,
pada sesama kaomu walaka
tak berlaku gelar pangkat itu
ia luluh bersama kesesamaan itu

Laode itu
hakikatnya adalah laku diri
tanggunganya berat sekali
sebab,
bagimana orang lain kau suruhi
kau ingini baik berlaku
kalau kau sendiri tak baik berlaku?
Berlaku baik pada diri sendiri dulu
Bahkan nanti tanpa kau suruhi
Orang-orang akan berbaris datang mengikutimu.

Laode itu
Adalah adab tahu diri
Tidak lupa diri
Seorang ode harus tahu diri
Harus mengenali batas kediriannya
Tahu makna keodeannya
Karena hanya dengan itu saja
Jalan mengenali-Nya
Tak berhak dipanggil la ode
Pada seorang yang buruk perangainya
Pada mereka yang berlaku amoral asusila
Pada mereka yang sombong serakah
Mengambil yang bukan haknya
Meskipun garis turunannya adalah bangsawan
Tak patut ia menyandang gelar mulia itu

Seorang ode,
Harus bisa menjaga terus lurus perangainya
Harus bisa menjaga lisan terus sejalan dengan lakunya
Harus bisa menjaga diri menguasai hawa nafsunya

Sudah ode,
Tidak berarti semakin menghabiskan makanan orang lain
Tidak berarti sesuka maunya mengambil hak orang lain
Tidak berarti semau enaknya menyuruh perintah orang lain

Seorang ode,
Harus semakin mengenal batas
Harus semakin mengenal kewajiban tanggung jawabnya

Pergilah, pergi
Kau telah dewasa
Telah bisa kuasa
Mengurus sendiri diri
Mengatur hidup sendiri

Pergilah, pergi
Kejar dan raih citamu
Pulanglah nanti
Banggakan ibu

Pergilah, pergi
Doa kami penuh beserta kau
Baring telungkupkan badan kau
Di muka pintu serambi sana
Biar kulangkahi kau
Agar nanti tak ada berani
Kau diganggu
Agar nanti
Kau kuat bernyali
Agar nanti
Kau selalu berani
Agar nanti
kau diberkati
Dilindungi Maha Pelindung
Sampai nanti kembali pulang

Pergilah pergi anakku
Jangan bersedih
Kau lelaki, mesti kuat
Kalau telah keluar tinggalkan rumah
Pantang langkah kembali mundur
Pantang muka balik menoleh
Seperti sope Wasilomata
Moncong haluannya
Kukuh menantang angkuh samudera
Setinggi gunung pun gelumbang
Tak surut ia membalik diri
Melaju kuat ia tembusi
Sehingga tampak pulau dituju
Sehingga tiba di pulau tuju

Pergilah, pergi anakku
Melangkahlah kuat
Tanggalkan takut
Jangan pengecut
Kokoh nyali tak lecut

Biarlah ibumu di sini
Berdiri tabah
dalam tegak,
melihat khusuk
Punggung kau
Sampai jarak mengambilmu
Dari pandanganku
Atau bulir air mata
Yang menderas haru
Menghapusmu dari mata aku

Pergilah, pergi
Perpisahan memang selalu begitu
Menyimpan sedih anakku
Menggandeng duka pada datangnya
Entah itu pergi sementara
Atau pergi selamanya
Tapi bukankah untuk bertemu harus berpisah dahulu?
Bagaimana ada bertemu kalau tidak berpisahan dahulu?
Bukankah berpisah itu yang menyemai-nyemai
Memanggil-manggil datang sehingga ada bertemu?
Pisah inilah yang membiakkan rindu anakku
menjadikan berjarak
dan pada berjarak inilah rindu membentang
sejauh membentang jarak
sebesar itulah pula rindu anakku

Ngkolee..
benar bukan soal pergi itu
Pun tak soal pisah itu
Telah menjadi memang ketetapan-Nya
Bahwa yang datang pada akhirnya pergi
Pulang ke tempat kali pertama ia datang
Sebagaimana purnama selalu datang
Tepat di empat belas malam
Dan kau telah memilih datang
Maka juga harus bersiap pergi
Awal pergi kau di sini
Pulanglah kelak juga di sini
Sebagaimana awal adanya
Itulah pula akhir jadinya

Berkat tanah Butuuni
Berkah tanah munajatmu
Dan doa ibu di sini
Menjaga limpahi kau

Amien....

Gu, Lakudo, Agustus 2010



Catatan;
1. Langkolee/Ngkolee = Panggilan sayang pada anak kecil lelaki di Gu, Lakudo, Buton
2. Lakina = kepala kampung/wilayah/distrik
3. Kaomu = golongan bangsawan paling tinggi di Kesultanan Buton yang berhak atas jabatan Sultan
4. Walaka = golongan bangsawan lapis kedua setelah kaomu, berhak atas jabatan dewan Kesultanan
5. Siolimbona = Dewan Kesultanan yang mengusulkan dan memilih Sultan
6. Sara = aparat Kesultanan
7. Kamboru-mboru = Istilah yang merujuk ke kaomu
8. Kumbewa = salah satu klan kaomu, kaomu ada tiga (Tanailandu, Kumbewaha, dan Tapi-tapi) ketiga klan kaomu inilah yang bergantian menggilir jabatan Sultan
9. Sope = perahu, kapal
10. laode = gelar bangsawan di Buton dan Muna
11. Mia Sambali = Orang luar, merujuk pada klan, kaum, kelompok yang berdiam tinggal di luar   benteng Keraton Buton.
12. Wasilomata = nama desa/ kampung yang terkenal bertuah mantera melaut mereka
13. Matana Sorumba = Ujung tombak. pasukan paling depan penghalau musuh kesultanan
14. Liwuto = sekarang Pulau Makassar. pulau kecil tempat 5000 pasukan Gowa ditawan
15. Barata = kerajaan di bawah otoritas Kesultanan Buton, menjadi penopang Kesultanan.

Kamis, 29 Juli 2010

Sajak Indrian Koto


Masangin
Syaifuddin Gani

kau ingin mencoba peruntunganmu sekali lagi:

melewati gerbang yang membuka dirinya
untuk semua yang datang.
tak pernah tersesat kau sesungguhnya
ada aku yang mengasihimu, lebih dari
sekedar ingatan-ingatan kecil dan gerutuan
bertahun lampau. semua kekal di sini,
lekat di antara yang berdatangan

turis-turis dengan alkohol di tangan
membuatmu cemas dan melihatnya
semata ancaman yang akan membunuh kita semua

di depan beringin itu, kukira kita akan kekal
sebagaimana malioboro yang mengabadikan peristiwa
membuat semua orang ingin ke sana
tentu juga kau
--ah tidak ada lagi yang tersisa sebagai kenangan
kita kehilangan apa pun sebagai tempat pulang.
di tempat-tempat begini, tempat orang-orang datang

dan pergi. apalah kita. sekumpulan
orang-orang panik yang tunduk

pada gerbang yang membuka dirinya. tempat kau mencoba
memasukinya dan berkali tersesat arah

2009

Buku Puisi Memento, Karya Arif Bagus Prasetyo Pemenang Anugerah Puisi CSH 2009

Pemenang Anugerah Puisi CSH 2009
Selaku juri tunggal Anugerah Puisi  CSH 2009,  pada hari ini, Kamis, 29 Juli 2010, dengan senang hati saya mengumumkan buku kumpulan puisi Memento karya penyair Arif Bagus Prasetyo sebagai pemenang Anugerah Puisi CSH 2009 dan berhak atas hadiah uang tunai sebesar Rp 7.000.000. Keputusan penetapan Memento karya Arif Bagus Prasetyo sebagai pemenang Anugerah Puisi CSH 2009 adalah bersifat mutlak dan tidak dapat diganggu gugat.

Pemilihan buku kumpulan puisi Memento sebagai buku kumpulan puisi Indonesia terbaik 2009 (versi Anugerah Puisi CSH) dan ditetapkan sebagai pemenang Anugerah Puisi CSH 2009 dilakukan setelah melalui proses pembacaan yang teliti dan berulang-ulang selama lebih kurang tiga bulan, terhitung sejak penetapan short-list (lima besar) buku kumpulan puisi Anugerah Puisi CSH 2009 diumumkan.

Puisi-puisi Arif Bagus Prasetyo dalam Memento memperlihatkan rangkaian perjalanan panjang penyairnya dalam upaya mencari dan menemukan rekonstruksi bahasa yang subjektif, spirit of newness, keutuhan, kekuatan, dan kedalaman estetika puitik dan pada saat yang sama dengan tanpa gentar melakukan pergulatan dan pertempuran terus menerus dari segi bentuk dan tematik. Memento adalah pencapaian tertinggi Arief Bagus Prasetyo dalam ranah puisi.

Sebagian besar puisi-puisi dalam Memento, jika tidak dapat dikatakan seluruhnya, merupakan manifesto yang tegas dan terbuka untuk menolak memperlakukan puisi sebagai kerja pertukangan atau semata-mata bakat alam. Memento dengan lapang menerima khasanah kearifan lokal sebagai sumber mental tetapi pada saat yang sama juga dengan lapang menjangkau khasanah kearifan puitik dari wilayah-wilayah lain dan menjadikannya sebagai sumber mental yang sama pentingnya.

Sebagai pribadi dan juri tunggal Anugerah Puisi CSH 2009 saya mengucapkan selamat kepada Arif Bagus Prasetyo atas terpilihnya Memento sebagai pemenang Anugerah Puisi CSH 2009.

Saya juga mengucapkan selamat kepada para penyair yang buku kumpulan puisinya terpilih masuk ke dalam short-list (lima besar) maupun long-list Anugerah Puisi CSH 2009. 

Cimahi, 29 Juli 2010
Cecep Syamsul Hari

Short-list Anugerah Puisi CSH 2009
Berikut adalah lima buku puisi yang terpilih sebagai lima besar Anugerah Puisi CSH 2009. Disusun secara alfabetis:

Akar Berpilin karya Gus tf. Penerbit Gramedia, Jakarta, Juni 2009.
Lagu Cinta Para Pendosa karya Zaim Rofiqi. Penerbit Alvabet, Tangerang, Mei 2009.
Memento karya Arif Bagus Prasetyo. Penerbit Arti Foundation, Denpasar, April 2009.
Puan Kecubung karya Jimmy Maruli Alfian. Penerbit Kata Kita, Depok, Februari 2009.
Telimpuh karya Hasan Aspahani. Penerbit Koekoesan, Depok, Juni 2009.

Satu buku puisi akan dipilih sebagai pemenang Anugerah Puisi CSH 2009 dan akan diumumkan pada awal Juni 2010. 

Cimahi, 27 April 2010
Cecep Syamsul Hari

Long-list Anugerah Puisi CSH 2009
Berikut adalah judul-judul buku puisi yang memenuhi persyaratan untuk diikutkan dalam penilaian/penjurian Anugerah Puisi CSH 2009. Disusun secara alfabetis:

Akar Berpilin. Gus tf. Gramedia, Jakarta, Juni 2009.
Bumi Gora. M. Hasan Sanjuri. Sanggar Sastra Al-Amien, Sumenep, Desember 2009.
Cinta yang Marah. M. Aan Mansyur. Bejana, Bandung, April 2009.
Kampung Ular. Rahmat Heldy HS. Lumbung Banten, Serang, Januari 2009.
Lagu Cinta Para Pendosa. Zaim Rofiqi. Alvabet, Tangerang, Mei 2009.
Lilin-lilin Melawan Angin. Slamet Riyadi Sabrawi. LP3Y, Yogyakarta, September 2009.
Memento. Arif Bagus Prasetyo. Arti Foundation, Denpasar, April 2009.
Partitur, Sketsa, Potret dan Prosa. Wendoko. Banana, Jakarta, Juni 2009.
Peneguk Sunyi. Soni Farid Maulana. Kiblat, Bandung, April 2009.
Penyair Bodoh. Dea Anugrah. Greentea, Jakarta, Desember 2009.
Pewaris Tunggal Istana Pasir. M. Nahdiansyah Abdi. Tahura Media, Banjarmasin, Desember 2009.
Picnic. Karno Kartadibrata. Kiblat, Bandung, Januari 2009.
Puan Kecubung. Jimmy Maruli Alfian. Kata Kita, Depok, Februari 2009.
Surat Terakhir. Kamil Ibnu Masduki. FBSI, Sumenep, Agustus 2009.
Telimpuh. Hasan Aspahani. Koekoesan, Depok, Juni 2009.

Proses penilaian/penjurian akan dilakukan mulai 3 Februari s.d. 26 April 2010 untuk memilih lima finalis. Lima buku puisi yang terpilih masuk ke dalam lima besar (finalis) akan diumumkan pada 27 April 2010.

Cimahi, 2 Februari 2010
Cecep Syamsul Hari

Sumber: http://cecepsyamsulhari.webs.com/anugerahpuisicsh.htm